Pengembang Apartemen Serbu Jatinangor

by -86 views

Kawasan pendidikan tinggi Jatinangor, Sumedang, Jawa Barat, terus diserbu pembangunan apartemen khususnya tipe studio dengan menyasar pasar kalangan mahasiswa dan investor.

Survei yang dilakukan AKURAT.CO menunjukkan, di Jatinangor telah berdiri apartemen Pinewood, Eastonpark, Skyland, Taman Melati, dan apartemen yang baru saja diluncurkan Apartemen Louve.

Seluruh apartemen tersebut berlokasi di koridor jalan yang sama yaitu Jalan Raya Jatinangor yang berada di Kecamatan Jatinangor, Sumedang, Jawa Barat.

Apartemen ini memperebutkan ceruk pasar yang sama yaitu mahasiswa dan kalangan pekerja perguruan tinggi di kawasan itu seperti Universitas Pajajaran (Unpad), Institut Teknologi Bandung (ITB), Institut Koperasi Indonesia (Ikopin), Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) yang berjajar di kiri jalan dari arah Kota Bandung.

Total jumlah mahasiswa yang kuliah di sini ditaksir mencapai 70 ribu mahasiswa dan pertambahan mahasiswa baru per tahun mencapai 15 ribu orang.

Para pengembang apartemen ini mengklaim rata-rata apartemennya telah terjual sampai di atas 90 persen dari seluruh unit yang dibangun. Misalnya seperti dikatakan Ricky Gustaman, Staf Marketing Taman Melati Resort Hotel and Residential kepada AKURAT.CO, Kamis (4/12), proyek yang dibangun oleh PT Adhi Karya, Tbk pada 2013 ini telah terjual 95 persen dari 770 unit yang dibangun. Sebanyak 80 unit diantaranya tidak dijual karena akan dijadikan kamar hotel. 
Menurut Ricky, pembangunan apartemen yang dipadukan dengan hotel berkonsep resor ini masih memasarkan 30-an unit kamar tipe studio 21 m2 seharga Rp 497-an juta dengan pembayaran Kredit Pemilikan Apartemen (KPA) dan Rp 467,5 juta jika odengan tunai.

Jika dibandingkan dengan apartemen lain di kawasan Jatinangor, harga ini diakui Ricky memang lebih mahal antara 30-40persen.

“Karena konsep kami adalah apartemen resort yang memiliki faslilitas dan view pegunungan dan kota Bandung yang indah. Kami juga agak jauh dari jalan raya. Kalau apartemen lain letaknya di tepi jalan sehingga bising dan kurang nyaman,” kilah Ricky.

Saat ini Taman Melati sedang dalam tahap penyelesaian beberapa fasilitas seperti museum gallery dan roof dining di atap apartemen berlantai 16 ini.

Sebesar 80 pembeli apartemen ini, menurut Ricky, adalah investor. Di antara mereka ada yang menyerahkan pengelolaannya kepada manajemen untuk disewakan kepada konsumen dengan harga Rp 28-30 juta/tahun.

“Kalau mau beli sekarang saja, Pak. Kalau satu-dua bulan lagi sudah naik sampai 20-30 juta rupiah per unit,” saran Ricky.

Tergiur oleh pasar yang sama pengembang plat merah PT Pembangunan Perumahan, Desember lalu baru, Oktober lalu baru saja meluncurkan Apartemen Louvin Jatinangor –Premium Student– yang lokasinya dekat dengan kampus ITB Jatinangor.

Direncanakan berdiri di atas lahan 12.790 m2, apartemen ini akan terdiri dari 3 Tower setinggi 25 lantai dengan total 1.700 unit. 
Tipe yang dbangun terdiri atas unit studio Dual Key Unit dan Triple Key Unit dengan harga perdana Rp 300-an juta. Lokasinya tepat di depan gerbang ITB atau 75 m dari pintu gerbang ITB. Louvin dilengkapi fasilitas kolam renang air hangat, jalur sepeda, sky garden, dan area komersial.

Jatinangor adalah suatu kecamatan yang berada di Kabupaten Sumedang, Jawa Barat. Kawasan ini memiliki luas 26.20 Km2 dan dikelilingi oleh gunung-gunung. Udara sejuk dan adanya empat kampus perguruan tinggi dengan.jumlah mahasiswa yang besar itu memang menjadi magnit tersendiri para pengembang mendirikan apartemen.

Para pengembang ini juga menjadikan mudahnya aksesibilitas sebagai daya jualnya. Misalnya kawasan Jatinangor diklaim tak jauh dai kota Bandung, dekat dengan akses Tol Cileunyi, dan Tol Cisumdawu, serta dekat dengan Stasiun Kereta Cepat Jakarta-Bandung yang sedang dibangun.

Namun fenomena serbuan apartemen di Jatinangor mulai menunjukkan gejala tidak sehat, yaitu jor-joran pemilik atau investor menyewakan apartemenya secara harian dengan kisaran harga Rp 500 ribu sampai Rp 1 juta tergantung fasilitas.

Beralih fungsinya sejumlah apartemen milik menjadi apartemen sewa harian ini dikeluhkan sejumlah pihak sebagai pelanggaran izin. Izin apartemen berbeda dengan izin losmen, hotel, dan rumah susun sewa. Pelanggaran izin ini dikhawatirkan apartemen-apartemen di Jatinangor dijadikan ajang kegiatan penyakit masyarakat dan sumber gangguan keamanan dan ketertiban oleh pihak tidak bertanggung jawab.

Seperti disampaikan Anggota Komisi A DPRD Sumedang Yogie Yaman Santosa, bahwa aturan perundang-undangan rumah susun milik berbeda dengan apartemen. Bila terjadi alih fungsi dan peruntukkan, dia meminta Pemda Sumedang lebih serius melakukan pengawasan keberadaan apartemen yang ada di Jatinangor sehingga tidak terjadi pelangggaran yang memicu keresahan warga setempat

 

 

 

Sumber : http://ekonomi.akurat.co