Pengosongan Sabusu Akan Dilakukan Secara Paksa

by -71 views

Pengosongan Sabusu Akan Dilakukan Secara Paksa

Jatinangorku.com – Pemkab Sumedang hingga kini masih memproses tukar gulir Sabusu (Saung Budaya Sunda) di Kec. Jatinangor dengan tanah dan bangunan milik Pemprov Jabar yang ada di wilayah di Kab. Sumedang.

Pemkab Sumedang juga sudah mengirimkan surat kepada pengusaha yang mengelola Sabusu untuk segera mengosongkan tempat tersebut. Pasalnya, Sabusu akan dipakai oleh provinsi, salah satunya untuk kantor Samsat Online yang kini masih mengontrak di kawasan restoran “Suharti” di Jatinangor.

“Seandainya pengusaha tidak mengindahkan surat pengosongan, apa boleh buat kami akan melakukan cara paksa,” ujar Sekda Kab. Sumedang, H. Zaenal Alimin di kantor Kecamatan Jatinangor, Rabu (9/7/2014).

Menurut dia, dari empat bangunan yang ada di Sabusu, satu di antaranya sudah dipastikan akan dipakai provinsi untuk kantor Samsat Online. Sebab, kantor Samsat Online kini masih mengontrak di kawasan restoran “Suharti”.

Sementara tiga bangunan lainnya pun menyusul akan digunakan oleh provinsi. “Namun dipakai untuk apa, provinsi belum memberitahukan kepada kami,” tutur Zaenal Alimin.

Tanah Sabusu, lanjut dia, milik provinsi. Namun, bangunannya milik Pemkab Sumedang. Akan tetapi, dalam proses tukar guling tersebut bangunan Sabusu akan diberikan kepada Pemprov Jabar.

Sebagai gantinya, Pemrov Jabar akan memberikan tanah dan bangunannya yang ada di wilayah Kab. Sumedang menjadi aset Pemkab Sumedang.

“Salah satunya, tanah provinsi di Tanjungsari. Tanah tersebut, akan dipakai untuk pembangunan rumah sakit non kelas. Khusus penggunaan tanah provinsi yang akan dibangun rumah sakit non kelas, hingga kini masih penjajagan,” tuturnya.

Lebih jauh Zaenal Alimin menyebutkan, selain tanah provinsi yang akan dibangun rumah sakit non kelas di Tanjungsari, ada beberapa aset provinsi lainnya berupa tanah dan bangunan.

Seperti halnya kantor Arsip Daerah di wilayah Kec. Sumedang Selatan. “Nah, tanah dan bangunan provinsi lainnya, akan turut diberikan kepada kami sebagai proses tukar guling dengan Sabusu,” tuturnya.

Ia menambahkan, Sabusu sengaja dibangun sebagai gallery berbagai macam kerajinan rakyat dan souvernir bagi wisatawan. Terlebih di Jatinangor, ada kampus IPDN.

Ketika ada acara wisuda praja IPDN, para pengunjung dari seluruh Indonesia bisa melihat gallery dan belanja oleh-oleh kerajinan. Namun sayangnya, pengelolaan Sabusu kini tidak sesuai fungsi dan peruntukannya.

Keberadaannya malah kini dipakai untuk kegiatan komersil oleh pengusaha. Bahkan kasus tersebut menjadi temuan dari BPKP (Badan Pemeriksa Keuangan dan Pembangunan).

“Nah, dikarenakan sekarang Sabusu akan ditukarguling dengan tanah dan bangunan provinsi sehingga mau tak mau Sabusu harus segera dikosongkan,” ujar Zaenal Alimin.

Sumber : http://www.pikiran-rakyat.com/