Permukiman Pengungsi Akan Dibuat Terang Benderang

by -37 views

Dinas Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) dan Pertanahan Kabupaten Sumedang sudah memasang listrik di tempat hunian sementara (huntara) warga korban longsor di Desa Sakurjaya, Kecamatan Ujungjaya. Hanya saja, karena jaringan tegangan menengahnya masih dalam proses pemasangan oleh PLN, penerangan listrik yang masuk ke rumah warga untuk sementara memakai 3 unit genset.

“Walau menggunakan genset, tapi semua rumah warga pengungsi korban longsor di hunian sementara (huntara), kini sudah diterangi lampu. Untuk bahan bakar gensetnya, sudah dianggarkan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD),” kata Kepala Dinas ESDM dan Pertanahan Sumedang, Eem Hendrawan, ketika ditemui di kantornya, Kamis 20 Oktober 2016.

Menurut dia, penerangan listrik menggunakan genset hanya sementara, sampai pemasangan JTM PLN untuk memasok listrik ke rumah warga di huntara selesai. Dalam prosesnya, Dinas ESDM dan Pertanahan sudah mengajukan izin pemasangan JTM melewati kawasan hutan Perhutani kepada Kementerian Kehutanan, tembusan kepada PLN pusat. “Sambil proses pemasangan JTM berjalan, PLN kini sedang merevitalisasi instalasi listrik yang ada di rumah-rumah warga pengungsi,” kata Eem.

Revitalisasi instalasi listrik itu, kata dia, karena ada beberapa perlengkapan listrik di rumah warga yang hilang dan rusak. Misalnya, saklar dan stop kontak. Kondisi itu, akibat rumah di huntara yang urung dipakai warga terdampak Waduk Jatigede, sudah lama tidak diisi. Oleh karena itu, perlu dipasang lagi perlengkapan yang baru termasuk memperbaiki yang rusak. “Intinya, semua rumah di huntara dijamin dipasang listrik PLN. Kalau listrik PLN sudah terpasang, rekeningnya bayar sendiri supaya warga belajar mandiri,” ujarnya.

Eem menuturkan, dinas pun akan membuat terang benderang pemukiman warga pengungsi di malam hari dengan memasang penerangan jalan umum (PJU) di 55 titik. Dengan pemasangan PJU, diharapkan perumahan di Desa Sakurjaya seperti kawasan perkotaan. Apalagi, jumlah rumah yang sudah dibangun di Desa Sakurjaya sudah dinilai cukup banyak hingga 517 unit. Sementara yang dipakai pengungsi korban longsor hanya 105 unit.

“Lahannya pun begitu luas. Dari lahan yang disediakan 35 hektare, yang terpakai untuk pembangunan rumah, baru sekitar 10 hektare. Makanya kalau perumahan Sakurjaya itu semuanya diterangi PJU, nantinya akan seperti perkotaan. Apalagi lokasinya cukup dekat dengan jalan Tol Cisumdawu (Cileunyi-Sumedang-Dawuan). Malahan di Ujungjaya akan dibangun kawasan industri,” ucapnya.

Sebelumnya, Bupati Sumedang Eka Setiawan mengatakan, Pemkab Sumedang akan terus berusaha mengakomodasikan keperluan warga pengungsi di huntara, termasuk keinginan membangun musala dan lapangan olah raga.

“Kondisi di huntara, memang belum sepenuhnya sempurna. Akan tetapi, saya akan berupaya melengkapi dan memenuhi keinginan warga supaya mereka betah dan nyaman tinggal di huntara. Kalau ada keinginan, sampaikan saja melalui posko utama. Mudah-mudahan kami bisa memenuhinya,” tuturnya saat meninjau para pengungsi korban longsor di huntara di Desa Sakurjaya, Kecamatan Ujungjaya, Senin 17 Oktober 2016 lalu.

Dikatakan, beberapa fasilitas sudah dipenuhi di huntara. Seperti halnya pemasangan listrik, air bersih termasuk layanan kesehatan warga. Posko kesehatan pun sudah tersedia yang letaknya berdampingan dengan posko utama. Begitu pula jaminan hidup bagi warga pengungsi Rp 10.000 per jiwa per hari, akan segera cair dalam beberapa hari ke depan. “Mudah-mudahan, jaminan hidup dari Kemensos bisa segera didistribusikan kepada warga pengungsi,” ujar Bupati Eka.

Menyinggung rencana jangka panjang para pengungsi korban longsor, ia mengatakan, Pemkab Sumedang akan mencari beberapa alternatif terbaik untuk para pengungsi. Mereka bisa saja menetap di perumahan Sakurjaya atau direloksi ke hunian tetap di Desa Margalaksana dan Mekarrahayu, Kec. Sumedang Selatan. Semua itu, disesuaikan dengan keinginan masyarakat.

“Kita lihat ke depan perkembangannya seperti apa? Namun, yang kita tahu, Sumedang merupakan daerah rawan bencana sehingga harus tersedia tempat pemukiman darurat guna menampung para korban bencana,” katanya