Petani Harus Ubah Pola Tanam

by -54 views



JATINANGOR (GM) – Guna mengantisipasi kerugian akibat ancaman kekeringan yang menyebabkan gagal panen, para petani harus mengubah pola tanam dengan meninggalkan atau menunda pola tanam intensifikasi saat memasuki musim hujan.

“Ini harus dilakukan terutama untuk tanaman padi karena mudah mati, bila kekurangan air,” kata salah seorang petani, Ayeng (57) di Desa Cilayung, Kec. Jatinangor, Kab. Sumedang, Minggu (9/9).

Menurut Ayeng, lahan pertanian dengan pola tanam setengah teknis, irigasi perdesaan, dan tadah hujan dinilai rawan kekeringan saat memasuki musim kemarau. “Pola tanam nonintensifikasi, masih ada harapan untuk menanggulangi kekeringan atau gagal panen. Dengan begitu, para petani dapat menyelamatkan tanaman hingga dipanen,” kata Ayeng.

Selain itu, lanjut Ayeng, panen raya dapat dilakukan jika para petani mempercepat pola tanam. Percepatan pola tanam tetap memungkinkan mereka melakukan penanaman hingga dua musim tanam aitu pada musim hujan, dan jelang musim kemarau.”Percepatan pola tanam dilakukan pada awal musim hujan, atau dengan cara memanfaatkan air hujan yang pertama,” jelasnya.

Berdasarkan pengalaman dan prediksi yang dilakukan, biasanya dilakukan pada akhir Oktober dengan penyemaian dan penanaman pada akhir November. “Pokoknya begitu ada air hujan langsung lakukan penanaman,” ujarnya.

Sementara petugas pengendali organisme pengganggu tumbuhan (POPT) Kec. Jatinangor, Didin Rosidin saat dikonfirmasi mengatkan, meski musim kemarau telah dirasakan para petani, namun, para petani masih berupaya mempergunakan Sungai Cikeruh untuk mengairi sawah baik mempergunakan sumur pompa atau disedot.

sumber : klik-galamedia