Pilgub Jabar 2018, Lika-liku Bakal Calon Gubernur Jabar Temukan Pasangannya

by -30 views

PETA kekuatan politik di Pilgub Jabar 2018 telah mengemuka seiring terpilihnya empat pasang calon gubernur dan wakil gubernur. Mereka adalah pasangan Sudrajat-Ahmad Syaikhu yang diusung Gerindra, PKS, dan PAN, pasangan Ridwan Kamil-Uu Ruzhanul Ulum yang diusung NasDem, PPP, PKB, Hanura, pasangan Deddy Mizwar-Dedi Mulyadi yang diusung Demokrat dan Golkar, hingga pasangan TB Hasanudin-Anton Charliyan yang diusung PDI Perjuangan.

Jika melihat pada kekuatan masing-masing partai di parlemen, pasangan Deddy Mizwar-Dedi Mulyadi menjadi pasangan dengan jumlah kursi paling gemuk. Meskipun hanya dua partai, pasangan ini mengantungi 29 kursi mengingat Golkar memiliki 17 kursi dan Demokrat punya 12 kursi.

Sementara pasangan kedua yang punya kursi cukup banyak adalah Sudrajat-Ahmad Syaiku. Dengan koalisi reuni Pilkada DKI yakni Gerindra (11), PKS (12), dan PAN (4), pasangan ini mengantungi 27 kursi.

Ridwan Kamil-Uu Ruzhanul Ulum mengantungi 24 kursi setelah empat partai yakni PPP (9), PKB (7), Nasdem (5), dan Hanura (3), menyepakati Uu sebagai pendamping Ridwan di Pilgub Jabar. Terakhir, kandidat yang diusung pada detik-detik terakhir jelang masa pendaftaran adalah pasangan TB Hasanudin-Anton Charliyan yang nampaknya memang memaksimalkan potensi PDI Perjuangan yang bisa mengusung kandidatnya sendiri dengan 20 kursi di parlemen.

Ancaman cabut dukungan 

Empat pasang kandidat ini didapat bukan dengan proses yang mudah. Karena dalam perjalanannya terjadi tarik menarik kepentingan hinga cabut mencabut dukungan yang membuat iklim politik di Jawa Barat sempat menghangat dan sangat dinamis.

Ridwan Kamil misalnya, sempat mendapat dukungan dari Golkar sebelum akhirnya terjadi polemik di internal partai beringin itu yang sekaligus berdampak pada bergantinya haluan partai dari yang awalnya mengusung Ridwan Kamil-Daniel Muttaqien di Pilgub Jabar menjadi Dedi Mulyadi. Nama Dedi Mulyadi sendiri awalnya sudah santer akan diusung Golkar, namun batal karena Golkar memilih Ridwan Kamil. Pergantian ketua Golkar dari Setya Novanto ke Airlangga Hartarto justru menguntungkannya dan mengembalikan rekomendasi yang sempat batal tadi.

Pencabutan dukungan dari Golkar untuk Ridwan Kamil sempat menjadi efek domino bagi koalisi pendukung Ridwan. Satu per satu mengancam mencabut dukungan seiring munculnya nama-nama wakil dari masing-masing partai. PPP saat itu mengusung Uu Ruzhanul Ulum, PKB, dengan Maman Imanulhaq, dan Nasdem yang menawarkan jalan konvensi. Di tengah polemik ini, Hanura merapat mendukung Ridwan Kamil.

Lain cerita Ridwan Kamil, lain pula cerita Deddy Mizwar. Pemeran Naga Bonar yang saat ini masih menjabat Wakil Gubernur Jawa Barat itu sejak jauh-jauh hari sudah diusung oleh Gerindra-PKS. Tetapi koalisi ini sempat pecah kongsi seiring keengganan Gerindra memasangkan Deddy Mizwar dengan Ahmad Syaikhu.

Di tengah kondisi ini, PAN masuk disusul kemudian Partai Demokrat. Sayang, kepemilikan Deddy Mizwar atas Kartu Tanda Anggota Demokrat membuat Gerindra makin mantap angkat kaki dari koalisi. Pasalnya, ketika hendak diusung Gerindra, Deddy Mizwar sudah dibidik untuk menjadi kader partai yang dipimpin oleh Prabowo Subianto ini. 

Tak mau kehabisan akal, Gerindra yang mundur meninggalkan koalisi akhirnya memunculkan jagoan baru yang bisa dibilang saat itu namanya belum banyak dibicarakan. Jagoan itu adalah Mayjen (Purn) Sudrajat yang sebelumnya aktif di militer dan menjadi salah satu pendukung Prabowo pada Pilpres 2014. Diusungnya Sudrajat sekaligus mengajak dua partai lain, yakni PKS dan PAN untuk bergabung bersama Gerindra. Tak disangka, lewat proses yang cukup rumit, PKS bersedia meninggalkan Deddy Mizwar dan menarik kadernya, Ahmad Syaikhu untuk mendampingi Sudrajat.

PAN sempat kalang kabut. Di satu sisi, PAN berniat bergabung dengan PKS dan Gerindra, tapi di sisi lain Ketua PAN, Zulkifli Hasan mengaku masih kesengsem dengan Deddy Mizwar. Namun, PAN harus memilih hingga akhirnya PAN bergabung dengan PKS dan Gerindra di menit akhir jelang masa pendaftaran.

Sebelum PAN mengambil sikap, Demokrat lebih dulu mengincar peluang karena tidak mungkin mengusung Deddy Mizwar hanya dengan 12 kursi. Gayung bersambut, Dedi Mulyadi yang mendapat rekomendasi dari Golkar pun merapat ke Demokrat. Sempat riuh siapa yang akan menjadi calon Jabar satu, kedua partai pun akhirnya menyepakati Deddy Mizwar menjadi Cagub dan Dedi Cawagubnya.

Membuat lawan tenang

Sementara PDIP, awalnya dikenal sebagai partai yang sangat memantau dinamika dan tak mengobral jagoannya. Beberapa hari jelang pengumuman Tb Hasanudin-Anton Charliyan, tiga opsi muncul dari PDIP, yakni bergabung dengan Ridwan Kamil, bergabung dengan partai lain dengan calon baru, hingga mengusung calon sendiri.

Kabar menguat tentang Ridwan Kamil sebelumnya muncul di tanggal 5 Januari 2017 malam. Tapi kabar ini berubah cepat seiring ditunjuknya Tb Hasanudin-Anton Charliyan oleh Ketua Umum PDIP Megawati Sukarnoputri pada 7 Januari 2017 pagi.

Pengamat politik dari Universitas Jenderal Ahmad Yani, Arlan Sidha mengatakan, elektabilitas dua kandidat lain memang tak semelesat Ridwan Kamil dan Deddy Mizwar, tetapi keduanya juga sudah lama diperbincangkan dan masuk ke beberapa survei. Meskipun begitu, diakui Arlan diusungnya Tb Hasanudin-Anton Charliyan di menit akhir di luar prediksi juga berisiko.

“Jika dilihat sekilas dari elektabilitas mungkin membuat lawan tenang. Tapi tipikal partai dengan loyalitas di akar rumput bisa saja politik berkata lain. Bisa juga ini bagian dari konsistensi PDIP sebagai partai kader,” ucapnya.

Adapun yang menarik dengan empat kandidat ini, adalah tensi politik yang akan semakin tinggi. Pasalnya di UU terbaru tidak ada putaran kedua untuk daerah selain DKI. “Saya menilai the real battle Pilkada Jabar selisih satu persen pun bisa jadi pemenang,” kata Arlan.*** 

 

 

 

Sumber : http://www.pikiran-rakyat.com