Polda Jabar Siapkan Penjara Khusus, Tangkap Pelaku Anarkis

by -7 views

Polda Jabar Siapkan Penjara Khusus, Tangkap Pelaku Anarkis

Jatinangorku.com – Polda Jabar tidak akan main-main dalam menangani dan menindak para pelaku anarki atau pembuat onar di wilayah hukumnya. Meski pelaku berasal dari kewilayahan, namun penahanan akan dilakukan di Mapolda Jabar.

Kabid Humas Polda Jabar Kombes Pol. Martinus Sitompul menuturkan, perintah tegas itu dikeluarkan Kapolda Jabar Irjen Pol. Suhardi Alius. Sebagaimana perintah Kapolda, semua kapolres/kapolresta dan kapolrestabes wajib menindak tegas kelompok anarkis yang membuat keonaran di wilayah hukumnya.

“Kita tidak akan main-main. Pelaku kita tindak tegas. Kapolda sudah memerintahkan para kapolres/kapolresta dan kapolrestabes untuk tegas terhadap pembuat onar,” jelas Martinus kepada wartawan, Sabtu (31/8).

Tindakan tegas ini merupakan upaya pihak kepolisian menciptakan situasi aman, tertib, damai, dan kondusif. Tindakan tegas dilakukan jika ada kelompok yang terbukti melakukan anarkisme yang dapat merusak kamtibmas.

“Yang terbukti (anarkis, red) langsung diproses hukum. Bahkan mereka akan kita tahan di sini (Mapolda Jabar, red) dan tanpa ada penangguhan,” paparnya menegaskan.

Penahanan dilakukan sebagai tindakan tegas aparat kepolisian dan memproses hukum kelompok masyarakat yang sering ber­buat anarkis. “Kita akan tegas mem­­proses hukum kelompok anar­kis. Ini dilakukan agar me­nim­bulkan efek jera,” ujar Martinus.

Ia pun mencontohkan kasus yang terjadi di Indramayu, belum lama ini. Tersangka langsung ditangkap dan diproses di Indramayu (polres). Akan tetapi penahanan dilakukan di Mapolda Jabar. “Untuk daerah lain juga sama. Jika terjadi anarkisme, pelakunya akan kita tahan di polda,” tandasnya.

Kasus Sisca

Sementara itu, meski sudah hampir satu bulan berlalu, namun misteri kematian Branch Manager PT Verena Multi Finance, Sisca Yofie (34) rupanya masih menjadi perhatian sejumlah kalangan. Salah satunya datang dari Masyarakat Pencegah Kejahatan (MPK).

Pembina MPK, M. Jaya mengatakan, kesimpulan yang sudah dikeluarkan pihak kepolisian dinilai terlalu dini. Hal itu tidak meningkatkan citra polisi di mata masyarakat.

“Justru dengan begitu, masya­ra­kat makin skeptis terhadap polisi. Masyarakat semakin curiga. Kasus ini saya pikir belum selesai,” ujar Jaya kepada warta­wan di kawasan Jln. Viaduct, Sabtu (31/8).

Jaya menyadari tugas polisi tidak lah mudah. Namun ia melihat, ada beberapa kejanggalan dan ketidakterbukaan polisi da­lam menyidik kasus yang ada. Da­lam beberapa hal, termasuk pa­da saat rekonstruksi, polisi di­nilai telah melakukan kesalahan.

“Saya contohkan rekonstruksi. Rekonstruksi itu ‘kan membangun kembali, nah membangun dalam peristiwa pidana itu mulai dari TKP, keterangan saksi termasuk autopsi. Tapi saya lihat banyak ketidaksesuaian. Seperti masalah rambut. Kalau tidak sesuai, itu sudah penipuan publik,” ujarnya.

Hal lainnya yang disoroti, yaitu soal tidak terbukanya rekonstruksi. Kedua tersangka wajahnya ditutupi penutup wajah dan menggunakan helm. Seharusnya, kata Jaya, identitas tersangka itu jelas atau dalam arti penutup wajah tidak seharusnya digunakan.

“Ini menimbulkan tanda tanya . Bisa saja ‘kan tersangka ini bertukar peran. Di sini ada ketidaktransparanan. Selain itu, bisa saja pemeran dalam rekonstruksi itu bukan pelaku yang sebenarnya melainkan orang lain. Dalam KUHAP juga diatur, bahwa identitas tersangka itu harus jelas,” tuturnya.

Melihat fakta-fakta yang ada, Jaya menduga polisi menutup-nutupi apa yang sebenarnya terjadi. Padahal polisi seharusnya bekerja transparan, lugas, dan tegas. Ia menduga, dalam kasus kematian Sisca sebenarnya ada aktor intelektualnya.

“Buat apa ditutup-tutupi dan membela satu orang tapi mengorbankan citra kepolisian sebagai pengayom, pelindung, dan pelayan masyarakat,” terang Jaya.

Sumber : http://klik-galamedia.com