Posting Informasi Hoaks, Pemuda Asal Jatinangor Sumedang Terancam Pidana Hingga 6 Tahun

by
Posting Informasi Hoaks, Pemuda Asal Jatinangor Sumedang Terancam Pidana Hingga 6 Tahun
Posting Informasi Hoaks, Pemuda Asal Jatinangor Sumedang Terancam Pidana Hingga 6 Tahun

Pemuda 31 tahun atas nama DP, warga Dusun Sayang RT 03/07, Desa Sayang, Kecamatan Jatinangor, Kabupaten Sumedang ditangkap Satreskrim Polres Sumedang.

Dia diduga melakukan penyebaran hoaks kerusuhan 21 Mei 2019 yang terjadi di DKI Jakarta pada akun media sosial Facebook miliknya.

DP yang merupakan karyawan di salah satu radio swasta ternama di Kota Bandung ini, ditangkap polisi lantaran mengupload kata-kata yang dianggap tidak benar atau hoaks terkait kejadian kerusuhan 21 Mei di Jakarta.

“Kejadian kerusuhan kemarin antara Polri dengan perusuh, dimanfaatkan oleh tersangka untuk memposting sesuatu yang tidak benar,” ujar Kapolres Sumedang AKBP Hartoyo saat  jumpa pers di halaman Mako Polres Sumedang, Kamis (23/5/2019).

Hartoyo mengatakan, postingan yang ditulis oleh tersangka pada FB dengan nama akun Dian Pardiana merupakan kata-kata yang tidak benar.

Ada tiga postingan yang menjadi dasar untuk penangkapan tersangka DP. Di antaranya sebagai berikut:

“Edan kieu aparat keparat teh, kacida nepika make peluru bener. Umat Islam moal mungkin nyieun rusuh mun teu dibalakan koplok, Semoga Alloh memusnahkan anda yang menggunakan kekuasaan untuk menindas”.

 “Kerusuhan di Petamburan geus teu lucu settingana. Era atuh uy anda penguasa, rakyat teu barodo jaman ayeuna mah”.

“Sesuatu yang sudah tidak benar itu ditambahin oleh yang tidak benar lagi. Oleh karena itu kemarin saya langsung perintahkan untuk menangkap tersangka ini.”

“Karena ini berpotensi memecah persatuan dan kesatuan bangsa. Juga akan menimbulkan kebencian-kebencian baru bagi orang yang tidak tahu,” terangnya.

Berbekal sejumlah alat bukti berupa satu unit handphone android dan screenshoot beberapa postingan ujaran kebencian milik tersangka, DP dikenakan Pasal 45 Undang-undang ITE junto pasal 207 KUHP dengan ancaman hukuman maksimal 6 tahun penjara.

“Padahal, pendidikan dan profesi tersangka ini juga mumpuni. Fanatisme itu boleh, tapi kalau sempit dan diarahkan ke hal yang salah ini yang jadi bahaya,” tuturnya.

sumber: ruber