Praja IPDN Asal Tarakan Meninggal Karena Kecelakaan Lalu Lintas

by -485 views

Bukan hal mudah bisa menempuh pendidikan di Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) Jatinangor. Seorang putra Tarakan beruntung bisa mewujudkan mimpinya, sekaligus juga bernasib nahas karena meninggal di usia sangat muda.

MAHASISWA IPDN kembali meregang nyawa. Bukan karena kekerasan senior terhadap junior yang sering terjadi di kampus yang dulu bernama Sekolah Tinggi Pemerintahan Dalam Negeri (STPDN) itu. Tapi, karena kecelakaan lalu lintas (lakalantas) di Tol Kerawang, Bekasi, Jawa Barat, Sabtu (24/3)dini hari Wita.

Kecelakaan merenggut nyawa Arief Rahman Hakim, mahasiswa IPDN asal Tarakan. Mobil sewaan yang ditumpanginya bersama 6 mahasiswa IPDN lain (seluruhnya berasal dari Tarakan), bertabrakan dengan truk di Tol Karawang saat hendak kembali ke asrama setelah libur sehari di Jakarta.

Akibat kecelakaan tersebut, Arief meninggal seketika di lokasi kejadian dengan luka serius dibagian leher. Sementara dua rekannya masih kritis, dan empat lainnya yang luka-luka dirawat di RSU Karawang-Bekasi.

Di Bumi Pangutaka kemarin pagi, kabar duka menyebar cepat di keluarga Almarhum. Hujan rintik membahasi bendera putih yang terpasang dipagar warna merah-marun di rumah kediaman Arief di RT 14 Nomor 3 Kelurahan Karang Anyar Pantai. Puluhan kursi plastik berwarna hijau beratapkan tenda biru di halaman rumah berpaving, dipenuhi sanak-saudara, sahabat, dan handai taulan, yang datang menyampaikan rasa duka.

“(Jenazah) sudah diberangkatkan sejak pagi dari Jakarta ke Tarakan naik pesawat. Kemungkinan sore (16.00 Wita kemarin, Red) tiba. Rencana dimakamkan di TPU Muslim Karang Anyar. Ada ibu (istri, Red) dan anak bungsu saya yang ikut membawanya pulang,” kata ayah Arief, Haji Abdurrakhman, saat mempersilakan pewarta koran ini masuk kedalam rumahnya.

Arief, pemegang bass di marching band IPDN Jatinangor, Sumedang, Jawa Barat, ini dikenal ramah, gampang bergaul, dan aktif. Cita-cita mulia sebagai abdi negara pun diperjuangkannya meski pernah gagal saat ikut tes penerimaan IPDN di Samarinda.

Arief lulus masuk IPDN 2 tahun lalu dengan menyingkirkan 40 dari 50 peserta ujian di Samarinda.“Lulus SMA tahun 2009, langsung ikut tes IPDN tapi gagal. Jadi, kuliah setahun di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ambil akuntansi. Dia anak yang sangat optimistis, yakin bisa masuk IPDN. Tahun 2010, ikut tes lagi dan Alhamdulillahlulus,” kenang Abdurrakhman.

“Ramah sama semua orang. Anak-anak kecil selalu datang kerumah kalau kebetulan dia pulang, seperti liburan akhir tahun lalu. Sebetulnya Arief rencana pulang Lebaran nanti,” ucapnya lagi, dengan nada sedih.

Namun, takdir berkata lain. Alumnus SMA Hang Tuah Tarakan ini berpulangke rahmatullah lebih awal dan hanya diberi kesempatan merasakan pendidikan di Kampus “Among Praja Dharma Nagari” sampai tingkat 2 atau setara semester 4. Pemilik tinggi 173 cm ini meninggal di usia 22 tahun.

“Jam 01.30 malam (dini hari kemarin, Red) seniornya telepon, dia mengabarkan anak saya meninggal. Sebelumnya memang izin liburan ke Jakarta, tapi tidak menginap. Berangkat pagi pulang malam. Didalam mobil ada 7 orang, dia (Arief) nyetir,” ujar bapak 4 orang anak ini.

Semakin pilu rasa hati, mengingat bulan depan (April) seharusnya anaknya yang juga alumni SDN 017 dan SMPN 2 Tarakan ini unjuk kebolehan. Rombongan marching band tempat Almarhum menggali bakat sebagai pemukul bass, rencananya ke Bali untuk pementasan.

Abdurakhman mengaku, tidak ada firasat yang dirasakan sebelumnya. Terakhir mendengar suara putranya pada pukul 22.00 Jumat (23/3) malam. Almarhum yang hobi sepak bola ini menelepon dan pamit berencana pulang ke Jatinangor malam itu juga.

“Tapi malam itu memang, saya ada melihat beberapa kali sekelabat bayangan. Cuma tidak berpikiran macam-macam. Tadi ada juga sepupunya bilang, malam itu melihat anak saya, dan berpesan ada musibah. Wallahu’alam,” jawabnya.

Sambil menahan tangis, awalnya Abdurrakhman mengaku tidak percaya. Namun, setelah istrinya Hajah Siti Sarah mendatangi rumah sakit dan membenarkan musibah tersebut, sekujur tubuh pengusaha tambak ini lemas seketika. Sang istri kebetulan sudah sepekan lalu liburan bersama anak bungsu dan menantunya ke Bogor, mengunjungi anak sulungnya yang tugas sebagai anggota Brimob di sana. “Mereka yang membawa pulang nanti, ditemani pamannya yang kebetulan ada di Bandung,” kata saudara kandung Ibrahim MAP, Asisten Kesra Setkot Tarakanitu.

Secara khusus, Abdurrakhman mewakili keluarga memohon kepada seluruh saudara, sahabat dan masyarakat yang mengenal Arief, agar mendoakan dan memaafkan segala kesalahan yang pernah dibuat putranya. “Arief ini tidak pernah mengeluh, selalu bersemangat jalani pendidikan di IPDN, karena itu cita-citanya. Untuk seluruh masyarakat, kami mohon doa dan maafnya jika ada salah dan khilaf yang diperbuat almarhum semasa hidup,” tandas sang ayah.

Sementara, Siti Aminah, teman seperjuangan kala tes IPDN di Samarinda tahun 2010 lalu, mengaku sosok Arief sangat supel. Selalu mampu mencairkan suasana dan perhatian kepada seluruh peserta tes. Bahkan, dinilai cerdas. Ini terbukti dari 50-an peserta, dia menjadi satu dari hanya 10 orang yang terpilih dari Tarakan untuk lanjut pendidikan ke IPDN.

“Padahal baru kenal, tapi cepat akrab. Perhatian sama teman-teman waktu di Samarinda, makanya sedih dan tidak percaya waktu dengar kabar duka itu. Teman-teman lain juga berencana melayat,” ucap Siti, yang kini sebagai mahasiswa Pendidikan BK Universitas Borneo Tarakan.(kpnn/zal).

Sumber : Kaltim-Post