Puskesmas di Sumedang Akan Jadi Puskesmas Mandiri

by -112 views

Jatinangorku.com – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Sumedang akan mengembangkan puskesmas menjadi puskesmas mandiri yang pengelolaan keuangannya menerapkan sistem BLUD (Badan Layanan Umum Daerah).

Dengan puskesmas mandiri, puskesmas diberikan keleluasaan penuh dalam mengelola keuangan serta operasionalnya sehingga pelayanan kesehatan di puskesmas bisa profesional.

“Dengan sistem BLUD, puskesmas akan leluasa mengelola keuangan maupun pembiayaannya. Untuk membiayai pengadaan obat dan sarana medis lainnya tak perlu menunggu APBD, melainkan bisa belanja sendiri dari anggaran yang dikelolanya. Kalau menunggu APBD, selain mekanisme penganggarannya lama, prosedurnya pun cukup rumit. Sementara, pelayanan harus cepat. Sistem BLUD di puskesmas itu, tak beda dengan konsep BLUD yang diterapkan di rumah sakit,” ujar Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sumedang, Agus Rasjidi di sela-sela Ulang Tahun RS Pakuwon, di Bale Kambang Lingga Pakuwon Dusun Pawenang, Desa Margamukti, Kec. Sumedang Utara, Kamis (28/5/2015).

Menurut dia, dengan puskesmas mandiri, pengelolaan keuangan maupun operasional pelayanan kesehatannya dilakukan secara mandiri.

Puskesmas bisa melengkapi sarana dan prasarana medisnya sendiri, termasuk pengadaan obat dan pemberian tunjangan kepada para perawat dan dokter. Dengan begitu, pelayanan kesehatan di puskesmas bisa profesional dan berkembang maju seperti rumah sakit.

“Kalau ada pasien yang butuh pertolongan cepat di puskesmas, tidak perlu menunggu kiriman obat dari dinas atau menunggu pencairan anggaran dari APBD. Akan tetapi, semua kebutuhan di puskesmas bisa terpenuhi dari anggarannya sendiri Upaya tersebut, bisa meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat. Hampir semua puskesmas di Kabupaten Bandung sudah mandiri dan menerapkan pengelolaan keuangan dengan sistem BLUD ini,” kata Agus.

Penerapan puskesmas mandiri dengan sistem BLUD ini, kata dia, secara tidak langsung bisa menghapus anggapan miring keberadaan puskesmas saat ini. Misalnya, pelayanan kesehatan di puskesmas kurang berkualitas, sarana medis dan obat-obatannya kurang lengkap bahkan terbatas.

Anggapan negatif lainnya, bangunannya pun terkesan kotor, sempit dan tak layak pakai, terutama puskesmas di daerah pelosok. Akibatnya, masyarakat enggan berobat dan memeriksakan kesehatannya ke puskesmas. Apalagi untuk masyarakat golongan menengah ke atas.

“Nah, kalau operasional puskesmasnya sudah mandiri dan menerapkan sistem keuangan BLUD, ke depan bangunan puskesmas bisa lebih megah, luas bahkan bisa dibangun tiga lantai. Kalau fasilitasnya sudah lengkap dan pelayanannya profesional, puskesmas bisa melayani rawat inap,” ujarnya.

Cuma sayangnya, untuk membangun puskesmas tiga lantai agar bisa melayani rawat inap, terkendala status tanah. Dari 35 puskesmas yang ada di Kabupaten Sumedang, hanya dua puskesmas yang tanahnya sudah bersertifikat milik aset pemda. Sisanya, sebagian besar masih menggunakan tanah milik desa sehingga sulit untuk dibangun dan perluasan lahan.

“Ini harus menjadi bahan pemikiran pemda. Kalau tanahnya milik aset pemda, kami bisa membangun gedung puskesmas yang megah sekaligus memperluas lahannya dengan berbagai fasilitas penunjangnya,” tutur Agus.

Lebih jauh Agus menjelaskan, pembangunan puskesmas mandiri dinilai sangat penting dan tak bisa ditawar-tawar lagi harus secepatnya terwujud.

Sebab, dengan pelayanan kesehatan BPJS (Badan Penyelenggara Jaminan Sosial), semua pesertanya terlebih dahulu harus memeriksakan kesehatannya di puskesmas atau klinik swasta.

Kecuali, pasien gawat darurat bisa langsung ke rumah sakit. Oleh karena itu, mau tak mau kualitas pelayanan di puskesmas harus ditingkatkan dan sarana medisnya memadai.

“Kami tidak memungkiri, peserta BPJS kelompok umum terutama golongan menengah ke atas yang biasa berobat langsung ke rumah sakit atau ke dokter spesialis, enggan bahkan gengsi kalau harus ke puskesmas. Oleh karena itu, puskesmasnya harus dibenahi dan pelayanannya harus ditingkatkan, seperti di rumah sakit,” katanya.

Sebetulnya, ia menambahkan, kualitas pelayanan di puskesmas dinilai sudah cukup bagus. Tingkat kepuasan masyarakat sudah mencapai 80% atau di atas rata-rata Jabar 70%.

Bahkan jumlah puskesmasnya kini bertambah, dari asalnya 32 menjadi 35 puskesmas, dan 3 di antaranya sudah melayani rawat inap, yakni Puskesmas Kota Kaler, Ujungjaya dan Jatinunggal.

“Supaya kualitas pelayanannya lebih bagus dan profesional lagi, harus dikembangkan menjadi puskesmas mandiri dengan sistem BLUD,” ucap Agus

Sumber : http://www.pikiran-rakyat.com/