Ratusan Warga Blokir Jalan Tol Cipali

by -73 views

Jatinangorku.com – Ratusan warga empat desa, masing-masing Desa Jatiwangi dan Surawangi, Kecamatan Jatiwangi serta Desa Bongas Kulon dan Wetan, Kecamatan Sumberjaya, Kabupaten Majalengka yang belum menerima ganti rugi lahan tol Cikampek-Palimanan-Kertajati (Cipali) lakukan aksi demo dengan cara memblokir ruas tol di kilometer 186, tepatnya di depan rest area yang berada di wilayah Surawangi, Senin (29/6/2015).

Mereka menuntut pemerintah memberikan ganti rugi lahan sebesar Rp 500.000 per meter, bila tidak juga dibayar mereka mengancam akan membongkar jalan dan rest area yang telah selesai dibangun dengan alasan lahan masih menjadi milik warga, sesuai dengan Surat Pemberitahuan Pajak Terutang (SPPT) yang majaknya hingga kini masih dibayar warga.

Aksi warga yang dimulai pukul 08.00 WIB hingga pukul 11.30 WIB ini sempat menghambat laju kendaraan yang melintasi tol, karena warga hampir menutup seluruh ruas jalan di wilayah tersebut. Namun akhirnya pihak kepolisian berupaya mengatur laju kendaraan hingga akhirnya kendaran bisa melintas walapun tidak leluasa karena hanya pas untuk satu badan kendaraan.

Para pendemo membawa sejumlah foster dan spanduk berisi tuntutan kepada Presiden Jokowi agar segera membayar lahan mereka dengan harga yang layak. Karena harga ganti rugi lahan yang telah dititipkan di Pengadilan Negeri dianggap terlalu rendah sehingga masyarakat menolak uang ganti rugi tersebut.

Eba (50) warga Desa Surawangi misalnya lahan miliknya di Blok Balong pada tahun 2008 hanya diberi ganti rugi Rp 20.000 per m2, sementara lahan milik tetangganya yang satu hamparan diberikan ganti rugi hingga Rp 320.000 per m2. Dia menganggap pemerintah tidak memenuhi rasa keadilan bagi masyarakat.

Demikian juga dengan lahan milik Tasri (60) seluas 500 m2 dan dan Wasjan seluas 5.553 m2 di Blok Garut Utara lahan tanahnya dihargai sangat murah jauh dibanding harga pasar saat itu.

Kecemburuan masyarakat menurut Sarwa warga Desa Bongas Wetan, karena pemerintah tidak memberikan ganti rugi lahan yang sama terhadap masyarakat. Saat itu lahan sawah milik Sarwa di Blok Blentuk hanya diberi ganti rugi sebesar Rp 31.000 per m2, sedangkan warga lain mencapai Rp 300.000 per m2. Padahal kelas tanah menurutnya lebih baik miliknya.

“Punya saya lahan sawah yang setiap tahunnya dua kali tanam sedangkan tanah yang diganti rugi dengan mahal tanah kering,” jelas Sarwa.

Lahan milik Ira dan Iim di Blok Blendung, Desa Jatisura juga demikian, ketika pemerintah menawarkan ganti rugi hanya sebesar Rp 22.000 per m2, atau Rp 308.000 per bata, sementara harga pasar di wilayahnya sudah mencapai Rp 350.000 per bata.

“Jadi mana mungkin saya bisa membeli lagi lahan tanah dengan luas yang sama mencapai 50 bata, bila harga lebih rendah dibanding harga pasar, makanya ganti rugi yang dititipkan di pengadilan tidak saya ambil,” ungkap Iin.

Hingga saat ini menurut mereka, Pajak Bumi dan Bangunan yang lahannya telah dipergunakan tol Cikampek-Palimanan-Kertajati ini setiap tahun masih dibayar warga, padahal tanah sudah dibangun pemerintah. Karena PBB masih dibayar warga itu mmbuktikan lahan masih milik masyarakat. Makanya warga mengancam bila ganti rugi tidak juga dipenuhi pemerintah sebesar Rp 500.000 per m2 maka bangunan jalan akan di bongkar.

“Sekarang di wilayah kami di Desa Bongas harga tanah untuk industri telah mencapai Rp 8.000.000 per bata, jadi tidak berlebihan bagi kami bila pemerintah memberikan ganti rugi Rp 500.000 per m2,” kata Sarwa.

Warga akhirnya membubarkan diri sekitar pukul 11,26WIB setelah anggota Dalmas yang dipimpin Kabag Op Polres Majalengka Kompol Jhonshon M berupaya meminta mereka untuk tidak menganggu arus lalulintas kendaraan.

Sumber : http://www.pikiran-rakyat.com/