Rawan Longsor, Tol Cisundawu Terpaksa Melingkar 5 KM

by -42 views

Jatinangorku.com – Karena rawan terjadi pergerakan tanah di lokasi pembangunan Tol Cisumdawu di Desa Giri Mukti, Kec. Sumedang Selatan, Kab. Sumedang, pelaksanaan pembangunan tol tersebut berencana mengalami pergeseran jalur dengan cara melingkar sepanjang 5 km. Sehingga harus ada pembebasan lahan baru untuk rencana penambahan jalur tol tersebut. Meski sebelumnya, pemerintah sudah membebaskan lahan untuk jalur tol sepanjang 2 km dari rencana awal sebelum ada pergeseran jalur.

“Kalau tidak ada pergeseran jalur jalan tol, panjang tol di lokasi rawan pergerakan tanah mencapai 2 km. Karena ada rencana pergeseran jalur tol sepanjang 5 km dengan cara memutar, sehingga harus ada pembebasan lahan baru,” kata Kepala Satker Tol (Jalan Bebas Hambatan) Cisumdawu Kab. Sumedang, Ir. Subagus Dwi Nurjaya Jatinangor, Jumat (24/10/2014). Menurutnya, ada pergeseran jalur jalan tol itu pada seksi dua pengerjaan Tol Cisumdawu dari mulai Kec. Rancakalong sampai Sumedang sepanjang 17,350 km. Total keseluruhan panjang Tol Cisumdawu lebih dari 60 km dari mulai Cileunyi hingga Dawuan.

Jika tidak ada pergeseran jalur tol itu, kata dia, dinilai cukup bahaya dalam pelaksanaan kontruksi pembangunan tolnya. Hal itu berdasarkan evaluasi dan pemantauan para ahli. Yaitu, melibatkan tenaga ahli geologi, hidrologi, teknik, ahli struktur, dan ahli kontruksi.

“Itu berdasarkan dari data dan informasi resmi yang dikeluarkan instansi resmi. Di antaranya dikeluarkan oleh Direkrotat Vulkanologi dan Nitigasi Bencana Geologi,” katanya.

Sementara itu dalam pelaksanaan pembanguna tol, kata Subagus, harus aman dalam struktur tanah, aman kontruksi pengerjaan tol dan aman untuk para pengguna jalan tol.

Menurut Subagus, di lokasi rawan pergerakan tanah pada jalur 2 km itu, sebagian lahannya sudah dibebaskan.

“Yang masalah bukan yang sudah dibebaskan. Tetapi dihawatirkan yang akan menjadi masalah itu, lahan yang akan dibebaskan karena sempat menimbulkan isu keresahan di para pemilik lahan,” katanya.

Dikatakannya, lahan yang sudah dibebaskan pada jalur rawan pergerakan tanah akan mubajir.

“Bisa jadi tak mubajir kalau ada terobosan baru. Secara set tak mubajir. Tapi, peruntukan meleset, jika terjadi pergeseran jalur tol,” katanya.

Meski direncanakan ada pergeseran jalur tol sepanjang 5 km dengan cara melingkar, kata dia, biaya kontruksi yang akan dikeluarkan lebih murah.

“Walau ada tambahan 3 km dari 5 km yang rencanakan panjang jalur tol setelah mengalami pergeseran itu, biaya untuk pembangunan kontruksi lebih murah,” katanya.

Sumber : http://www.klik-galamedia.com/