Reaktivasi Jalur KA Rancaekek-Tanjungsari Bakal Geliatkan Ekonomi Setempat

by -130 views
Dalam waktu dekat, jalur kereta api (KA) Rancaekek-Tanjungsari akan kembali diaktifkan. Reaktivasi ini bakal menggeliatkan roda perekonomian di Kabupaten Bandung dan Sumedang yang terlewati jalur sepur tersebut.
Kepala Seksi Kelaikan Pembangunan Dirjen Perkeretaapian Kementerian Perhubungan Santoso Sinaga mengatakan, trase Rancaekek-Tanjungsari ini termasuk dalam bidikan 280 km jalur KA yang tidak aktif di Jabar.
“Saat ini, atas ajuan Pemprov Jabar, kita akan melakukan reaktivasi jalur Rancaekek-Tanjungsari. Ini sudah menjadi prioritas tahun 2017 ini,” kata Santoso saat diskusi Napak Tilas Jalur Nonaktif Cibatu-Garut-Cikajang, Selasa-Kamis.
Menurutnya, trase ini termasuk dalam skala prioritas pemerintah pusat karena jalur ini pun terkoneksi dengan megaproyek pembangunan Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati.
Program reaktivasi Rancaekek-Tanjungsari ini hanya menunggu pembagian tugas antara pusat, daerah, dan PT Kereta Api Indonesia (PT KAI). Dia menjelaskan, skema yang dibuat yakni pemerintah pusat akan membangun sedangkan penertiban lahan diserahkan kepada PT KAI. Selainitu, Pemprov Jabar akan menyediakan dana untuk pengadaan lahan.
“Kalau penertiban dan pengadaan lahannya selesai, kita akan segera mulai pembangunan. Skemanya sudah jelas, cuma jadwal pastinya kapan itu menunggu proses penertiban dan penyediaan lahan untuk jalur Rancaekek-Tanjungsari,” tuturnya.
Secara umum, Santoso menjelaskan untuk pembangunan baru jalur rel kereta api, jalur ganda, dan reaktivasi jalur nonaktif di seluruh Nusantara itu membutuhkan anggaran sebesar Rp250 triliun. Dikarenakan minim dana, pihaknya menetapkan skala priotas. Dana sebesar itu merupakan perhitungan untuk rencana strategis hingga 2019 yang akan membangun sepanjang 3.200 km rel KA di sejumlah daerah.
“Tapi, dana yang tersedia hanya 30%. Jadi, kalau kita lihat tren pendanaan dari 2015 hanya berkisar Rp12-16 triliun per tahun,” ucapnya.
Hingga 2019 mendatang, jalur KA yang bisa diselesaikan hanya sepanjang 1.000 km. Skala prioritas harus dilakukan pemerintah agar dana yang terbatas tersebut bisa berdampak signifikan terhadap pembangunan transportasi nasional.
“Untuk Jabar, program prioritas itu yakni reaktivasi jalur Rancaekek-Tanjungsari. Setelah itu kemungkinan menyusul jalur Cibatu-Garut- Cikajang,” ujarnya.
Sementara itu, anggota Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Djoko Setijowarno menyebutkan reaktivasi jalur KA ini berdampak signifikan terhadap perekonomian daerah setempat yang dilalui. Ini diakui berbeda dengan pembangunan jalan tol.
“Kalau pembangunan jalan tol itu akan mematikan perekonomian masyarakt setempat. Kalau menghidupkan jalur KA, ekonomi masyarakat setempat akan terangkat,” sebut Djoko