Ribuan Generasi Milenial Sumedang Pilih Hidup di Daerah Lain, yang Kuliah Pun Enggan Pulang

by -51 views

Lulusan setingkat SLTA, atau yang kini sering disebut generasi milenial, di Sumedang, memilih meninggalkan kota kelahirannya untuk merantau ke kota lain.

Mereka mencari pekerjaan formal dan tak sedikit juga yang mencari pekerjaan sektor informal. Warga yang kuliah juga tak lagi pulang dan memilih mencari kerja di luar Sumedang.

Fakta bahwa banyak lulusan SLTA yang hengkang terlihat dari jumlah pemilih Pilkada 2018 di Sumedang.

Komisi Pemilihan Umum (KPU) Sumedang telah menetapkan daftar pemilih tetap (DPT) Pilkada 2018 sebanyak 834.276 pemilih.

Jumlah tersebut hanya mengalami kenaikan sedikit dari DPT Pilkada 2013 sebanyak 829.401.

 

Padahal setiap tahun jumlah yang lulus tingkat SMA/SMK/MAN mencapai 10 ribu siswa. Setiap tahun lulusan SMA mencapai 4 ribuan, SMK 6 ribuan, dan MAN sekitar 800 orang.

Pelajar yang lulus itu sudah berusia 17 tahun dan sudah memiliki hak pilih sehingga jika setiap tahun ada 10 ribu yang lulus SLTA maka selama lima tahun ada 50 ribu pemilih baru.

Namun menurut hasil pendataan pencocokan dan penelitian (coklit) KPU sehingga ditetapkan menjadi DPT, kenaikan jumlah pemilih selama lima tahun hanya 4.875 pemilih.

Ketua KPU Sumedang, Hersa Santosa, mengatakan penyelenggara pemilu menerima daftar penduduk potensial pemilih pemilu (DP4) 908.937 orang.

“Dari DP4 yang diterima, KPU melakukan coklit dengan mendatangi satu per satu rumah warga,” kata Hersa di KPU, Kamis (26/4).

KPU menerjunkan 2.026 petugas pemutakhiran data pemilih (PPDP). Hasil coklit ini menjadi daftar pemilih sementara (DPS), kemudian diolah lagi dan menjadi daftar pemilih tetap (DPT). KPU menemukan ada 204.700 yang tak memenuhi syarat karena sudah meninggal dunia, NIK ganda, pindah, dan belum cukup umur.

“Petugas sangat teliti sehingga setelah coklit dan pendataan itu ditetapkan DPT sebanyak 834.276,” katanya.

 

Kepala Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcasip), Agus Seksarsyah Rasjidi, mengatakan ia langsung mengecek ulang data kependudukan setelah medapat informasi itu.

“Melihat angka tersebut membuat saya meminta data warga yang mengajukan pindah dari Sumedang,” kata Agus.

Ternyata, kata dia, setiap tahun Disdukcsip mengeluarkan rata‑rata 13 ribuan surat keputusan pindah warga negara Indonesia (SKPWNI). “Itu warga yang melapor untuk pindah. Belum lagi yang tidak melapor,” kata Agus.

Menurut Agus, warga yang mengajukan pindah itu ada yang beralasan mendapat pekerjaan dan sekolah di luar Sumedang serta ikut dengan suami atau keluarganya.

“Jadi, kalau rata‑rata ada 13 ribuan yang pindah dari Sumedang maka sangat wajar kalau kenaikan pemilih itu sekitar empat ribuan,” katanya.

Menurut data, warga yang mengajukan SKPWNI di Disdukcasip untuk tahun 2014 mencapai 10.704 orang, 2015 (13.646 orang), 2016 (16.442), 2017 (14.404), dan sampai April 2018 sebanyak 5.005 mengajukan surat pindah.

 

“Sementara itu, orang luar Sumedang yang menjadi warga Sumedang rata‑rata per tahun 7 ribuan,” kata Agus.

Pengamat kebijakan publik Nandang Suherman berpendapat Sumedang memang tidak cukup menyediakan lapangan pekerjaan, apalagi yang sesuai dengan minat dan keahlian.

Sekalinya tersedia, sering diisi oleh warga luar Sumedang yang dianggap siap, khususnya di sektor tekstil.

“Di kawasan industri Jatinangor dan Cimanggung itu banyak perusahaan, terutama tekstil, yang bisa menyerap tenaga kerja banyak. Namun kebanyakan yang bekerjanya bukan orang Sumedang,” kata Nandang saat dihubungi melalui telepon, Kamis (26/4) malam.

Karena itu, ujar dia, sangat wajar banyak warga Sumedang yang hengkang dan merantau mencari kerja di luar Sumedang.

 “Penyediaan lapangan pekerjaan itu berbanding lurus dengan investasi yang masuk. Tidak ada investor yang masuk karena Sumedang kalah menarik dibanding daerah lain,” katanya.

Sumber : http://jabar.tribunnews.com