Sabusu Akan Ditukar Guling

by -71 views

Sabusu Akan Ditukar Guling

Jatinangorku.com – Pemkab Sumedang akan menukar bangunan Saung Budaya Sunda (Sa­busu) di Kec. Jatinangor dengan ru-mah sakit tanpa kelas. Rencana tukar guling itu sedang diproses dan diaju­kan kepada Pemprov Jabar sehu­bung­an pembangunan Sabusu itu bantuan provinsi.

“Jadi, Sabusu yang sudah menjadi aset Pemkab Sumedang akan dikem­ba­likan ke provinsi. Sebagai gantinya, kami mengajukan kepada provinsi pemba­ngunan rumah sakit tanpa kelas di wilayah Kec. Tanjungsari,” ujar Ke­pala Dinas Kesehatan Kab. Sumedang, H. Agus Rasjidi, Jumat (13/6).

Menurut Agus, proses penukaran ba­ngunan Sabusu dengan rumah sakit tanpa kelas itu, hingga kini tengah pro­ses pengajuan penyediaan tanah untuk pembangunan rumah sakit. Proses pe­ngajuannya dilakukan Dinas Penda­patan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (DPPKAD) Kab. Sumedang.

“Lahan dan bangunan Sabusu di­kembalikan ke provinsi. Nah, kita min­ta lahan provinsi lainnya untuk rumah sakit. Untuk lokasinya tergantung pro­vinsi, punya tanahnya di mana. Namun, kami menginginkan lokasi lahan untuk pembangunan rumah sakitnya di wilayah Tanjungsari,” ujarnya.

Ditanya alasan memilih Sabusu ditukar dengan rumah sakit tanpa kelas, ia mengaku tak mengetahui pasti ala­sannya karena kewenangan bagian aset di DPPKAD.

Namun demikian, informasinya penggunaan Sabusu dinilai tak sesuai fungsinya sebagai saung budaya. Keberadaannya justru cenderung dipakai tempat komersial. “Tapi untuk lebih jelasnya, bagian aset yang bisa mene­rang­kannya,” tutur Agus.

Bermanfaat

Pembangunan ru­mah sakit tanpa kelas di wilayah Tanjungsari dinilai penting dan ber­manfaat untuk masyarakat. Rumah sa­kit itu akan mendorong pelaya­nan kesehatan melalui BPJS (Badan Penyelenggara Jaminan Sosial) JKN (Jaminan Kesehatan Nasional).

“Oleh karena itu, pembangunan ru­mah sakit tanpa kelas ini menjadi prioritas. Seiring dengan pelaksanaan BPJS JKN, diharapkan pelayanan kesehatan masya­rakat lebih ditingkat­kan. Pelayanan rumah sakit negeri ha­rus mampu bersaing dengan swasta,” ujarnya.

Lebih jauh ia menjelaskan, rencana pembangunan rumah sakit tanpa kelas di Tanjungsari, harus diikuti dengan peningkatan sarana dan pelayanan puskesmas di wilayah Tanjungsari, Jatinangor, dan Cimanggung.

Hal itu untuk mendorong sistem rujukan dari puskesmas ke rumah sakit sesuai prosedur tetap BPJS. Bahkan Dinkes berupaya agar fungsi puskesmas lebih ditingkatkan dengan melayani perawatan.

Puskesmas dengan perawatan, harus didukung empat dokter spesialis. Bangunan berikut sarana alat kesehatannya harus dibenahi dan dilengkapi lagi. Pelaya­nannya pun perlu dioptimalkan. “Jadi, antara puskes­mas dengan rumah sakit bisa sinergis dalam menja­lankan program BPJS JKN ini,” katanya.

Sumber : http://www.klik-galamedia.com/