Salah Satu Landmark Jatinangor Adalah Jembatan Cincin Peninggalan Kolonial Belanda Abad XIX

by -303 views

Salah Satu Landmark Jatinangor Adalah Jembatan Cincin Peninggalan Kolonial Belanda Abad XIX

Jatinangorku.com – Di Jatinangor ada salah satu obyek yang sangat menarik dan langka peninggalan zaman Kolonialisme Belanda pada Abad XIX  yaitu “Jembatan Cincin” di samping kampus UNPAD tepatnya di daerah Cikuda. Jembatan ini didirikan untuk memperlancar angkutan hasil perkebunan karet (pada awalnya perkebunan teh) perusahaan perkebunan teh dan karet swasta milik Belanda yang bernama Cultur Ondernemingen van Maatshapij Baud yang didirikan pada 1844 dan merupakan perkebunan karet terbesar di Jawa Barat. Luas perkebunan teh dan karet ini sekitar 962 Hektar terbentang mulai dari kampus IPDN (Institute Pendidikan Dalam Negeri), Kampus IKOPIN, Kampus ITB, Kampus UNPAD, sampai lereng Gunung Manglayang Sumedang.

Jembatan Cincin dibangun oleh perusahaan Kereta Api Belanda (Staat Spoorwagen Verenidge Spoorwegbedrijf) pada tahun 1918. Pada saat itu jembatan Cincin merupakan jembatan yang sangat strategis, karena dapat menggerakkan lalu lintas hasil perkebunan dari Jatinangor ke arah Rancaekek.

Jatinangor sendiri merupakan nama kecamatan yang baru dipakai sejak tahun 2000an. Sebelumnya kecamatan ini bernama Cikeruh District Tanjoengsari. Titik terendah di Kecamatan Jatinangor ini terletak di Desa Cintamulya setinggi 675 M di atas permukaan laut, sedangkan titik tertingginya terletak di Puncak Gunung Geulis setinggi 1.281 M di atas permukaan laut. Sungai – sungai penting yang melintas di Jatinganor ini adalah Cikeruh, Cibeusi, Cicaringin, Cileles dan Cikeuyeup.

Aksesibilitas menuju ke Jembatan Cincin ini sangat mudah dapat dicapai dari dalam kampus UNPAD dekat dengan Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran, atau bisa juga dicapai melalui jalan Cikuda. Sekitar jembatan ini sangat indah dengan pemandangan sawah berteras dengan latar belakang Gunung Manglayang yang mempesona diselimuti udara sejuk.

Nasib jembatan ini sekarang, hanya dijadikan tempat penyeberangan para mahasiswa/i UNPAD yang kost di daerah Cikuda serta masyarakat sekitar. Rel kereta apinya sudah tidak ada, lenyap tanpa bekas.

Sumber : http://sewamurahapartemen.wordpress.com/