Salah Seorang Penjual Koran di Jatinangor, Cari Juga Sampingan Untuk Sekolah Anaknya

by

 

Apapun pekerjaan, tetap harus disyukuri dan terus semangat. Seperti Dedi (45), seorang penjual koran di kawasan Jatinangor. Meskipun bukan usahanya sendiri dan hasilnya pas-pasan, Dedi tetap bisa menyekolahkan kedua anaknya. Seperti apa kesiahnya. Berikut catatannya.

PAGi itu, Minggu (14/8), awan hitam menggumpal tepat di atas kepala. Rintikan air hujan, berjatuhan menerpa bumi, menyapa penduduk Jatinangor.

Meski udara basah dan lembab, namun hal itu tak menyurutkan warga untuk tetap beraktivitas. Baik itu untuk mencari nafkah, ataupun berakhir pekan bersama keluarga.

Demikian juga, dengan Dedi. Lelaki 45 tahun yang sudah 10 tahun lamanya berjualan koran, tetap semangat berjualan di jalan Jatinangor. Ia, tetap membuka lapaknya, dan melayani warga yang membutuhkan surat kabar.

Dengan jaket biru khasnya, juga topi untuk melindungi dari percikan hujan, lelaki itu membuka lapaknya sejak pagi hingga sebelum dzuhur. Dihampiri Jateks, Dedi pun menyambut hangat. Saat itu juga ia memulai perbincangannya mengenai usaha yang digelutinya itu.

“Usaha ini bukan punya Amang. Tapi punya saudara, pak Iwan. Amang hanya ngejaga saja,” ujar Dedi dengan ramah.

Sebagai penjual koran yang tak memiliki pelanggan tetap, Dedi mengaku, bahwa hasilnya itu pas-pasan. Terlebih, ia bukanlah pemilik usaha yang kini dijalaninya itu, karena hanya seorang pekerja dari saudaranya.

“Yah, paling dari satu koran Amang kebagian 500 sampai 600 perak Neng. Itu juga nggak tetap setiap hari. Kadang ramai kadang sepi,” tambahnya.

Namun, untuk menutupi kekurangannnya itu, selepas menjaga lapak, Dedi kerap berkeliling menawarkan koran yang tersisa. Tanpa kenal lelah dan penuh semangat, dirinya terus menyusuri jalanan di Jatinangor. Ya, tentunya hanya untuk menambah penghasilannya.

“Tos jaga, keliling kapalih wetan. Mapay jalan we. (Sudah jaga, berkeliling ke sebelah selatan. Menyusuri jalan saja),” paparnya.

Disamping itu, diceritakan Dedi, disela-sela berjualannya, ia pun tak segan terlibat dalam proyek bangunan. Semua itu, tentunya ia lakukan untuk memenuhi kebutuhan anak dan istrinya. Apalagi, ayah dari dua anak ini, harus membiayai sekolah kedua anaknya.

“Alhamdulillah, anak Amang yang pertama sudah SMK di Tanjungsari. Yang terakhir, masih di SMP Negeri,” jelas Dedi bercerita.

Dedi mengaku, sebelum menjadi penjual koran itu, ia pernah menjadi karyawan pabrik di daerah Rancaekek. Namun saat krisis mengguncang perusahaan, saat itu juga dirinya ikut kena PHK. Namun begitu, dirinya tetap bersyukur dengan pekerjaannya yang sekarang, meski itu serba pas-pasan.
“Yah, sekarangmah jalani aja yang ada. Asalkan ada penghasilan,” tandasnya