Sambut HUT ke-73 RI, Kecamatan Jatinangor Akan Gelar Pesta Rakyat

by

 Memeriahkan HUT ke-73 Republik Indonesia, kecamatan Jatinangor akan menggelar kreasi pesta rakyat, berupa penampilan hasil kreasi pembangunan masyarakat Jatinangor. Selain itu dalam kegiatan tersebut juga kata Camat Jatinangor, Syarif Efendi Badar akan ada karnaval seni budaya yang menampilkan berbagai kesenian yang ada di Kecamatan Jatinangor, termasuk adanya seni panggung ataupun helaran.

“Insyaalah akan dilaksanakan pada tanggal 18 Agustus, dan itu dipusatkan di Lapang Ciawi Desa Cikeruh,” kata Camat Jatinangor Syarif Efendi Badar pada Sumedang Online di ruang kerjanya, Selasa (31/7/2018).

Untuk menghindari kemacetan parah di Jalur Sumedang-Bandung, pihak kecamatan akan melakukan koordinasi dengan kepolisian sector Jatinangor Resort Sumedang. Selain itu sebut Syarif, semua desa akan dipustkan ke Lapang Ciawi, tidak ada panggung penilaian di kecamatan Jatingor. Sehingga sebut dia, Jalur Sumedang-Bandung hanya digunakan untuk pintu masuk dan keluar peserta saja.

“Semua desa di arahkan ke Lapang Ciawi, dan (memang) perlu ada pengaturan secara khusus kondisi lalu lintas di Jatinangor, ini kita berkoordinasi dengan pihak Polsek. Bagaimana supaya kalau macet, pasti macet, karena setiap hari pun jam-jam tertentu ada kepadatan Lalu lintas, apalagi dengan kegiatan ini. Cuman, kami akan lakukan sedemikian rupa kemacetan ini tidak terlalu parah, sehingga jalur protocol, khususnya Jalan Bandung-Sumedang kita jadikan sebagai jalur perlintasan saja. Jadi semua peserta masuk semuanya ke Lapang Ciawi Desa Cikeruh,” ujarnya.

Hindari kemacetan parah Jalur Sumedang-Bandung hanya digunakan sebagai perlintasan peserta masuk dan keluar saat pesta rakyat memeriahkan HUT ke-73 RI

Kegiatan tersebut sebut Syarif, akan melibatkan 12 desa yang ada di Kecamatan Jatingor. Dan, untuk jumlah peserta menurut keterangan panitia, tidak akan dibatasi. “Kemarin Panitia menyampaikan, bahwa untuk peserta tidak dibatasi. Mungkin saja hanya kepala desa dan perangkatnya saja yang ngabring, mungkin. Atau kepala desa beserta masyarakat dan masyarakat, lembaga, hasil kreasi pembangunan, termasuk karnaval seni budaya. Mungkin jumlahnya ribuan, mungkin. Karena kami tidak batasi, kalau dibatasi minimal sekian maksimal sekian, hawatir jadi beban,” tandasnya. *** IWAN

 

 

Sumber : https://www.sumedangonline.com