Sebanyak 245 Ibu Hamil di Sumedang Masuk Katagori Resiko Tinggi

by -228 views

Sebanyak 245 Ibu Hamil di Sumedang Masuk Katagori Resiko TinggiDinas Kesehatan Kab.Sumedang, mencatat terdapat sebanyak 245 orang dari 1.250 ibu hamil, yang terindikasi dalam kategori berisiko tinggi (resti). Data tersebut, dihimpun dari laporan yang disampaikan 35 Puskesmas.

“Kami telah menerima data laporan yang disampaikan 35 Puskesmas, tentang status ibu hamil (bumil), yang berada di wilayah kerjanya masing-masing. Dari data itu, kami menemukan adanya bumil dalam kategori resti, yang mencapai 245 orang,” kata rd.Ida Marlaida, Kepala Bidang Sumber Daya Kesehatan pada Dinas Kesehatan Kab.Sumedang, di ruang kerjanya, Jumat (18/8/2017).

Jumlah bumil resti itu, relating tinggi. Sebab prosentasenya di atas 20% dari jumlah bumil yang dilaporkan oleh tiap-tiap Puskesmas.
Oleh sebab itu, keberadaan bumil itu, telah menjadi prioritas petugas medis, khususnya bidan desa yang berada di bawah binaan Puskesmas setempat.

Apalagi, mereka bersama 1.250 bumil lainnya, sudah masuk dalam sasaran program Jampersal (jaminan persalinan) atau biaya kelahirannya di jamin pemerintah.

“Bumil sebanyak itu, masuk dalam kriteria sasaran program Jampersal. Dengan begitu, secara status sosial mereka berasal dari kalangan keluarga kurang mampu. Sehubungan dengan itu, mereka harus mendapat prioritas perhatian, Mulai dari pemeriksaan kandungannya secara berkala, hingga menjelang proses kelahiran (persalinan),” katanya.

Menyikapi itu, pihaknya dihadapkan pada situasi cukup pelik. Hal itu, mengingat biaya yang teranggarkan untuk program Jampersal, terus menurun. Dan sekarang pada tahun 2017, hanya teranggarkan Rp.1,1 milyar.

Anggaran sebesar itu, pesimis bisa membiayai seluruh bumil sasaran.

Terlebih jika, dihitung berdasarkan persalinan normal, setiap kasus hanya dibiayai Rp.700 ribu. Sehingga anggaran sebesar itu, hanya cukup untuk membiayai sebanyak 875 persalinan.

“Tentunya, kami dihadapkan pada situasi yang sulit. Sebab ketika, anggaran itu sudah terserap habis, maka secara otomatis, bumil sasaran lainya, terancam tidak terbiayai,” tandasnya.

Disisi lain, lanjut dia, dari sejumlah persalinan yang sudah ditangani, harus dirujuk ke rumah sakit, karena harus mendapat tindakan medis. Seperti harus dicaesar dan menjalani perawatan kesehatan. Sudah barang tentu, biaya yang dibutuhkan untuk tindaknseperti itu, cukup besar atau bahkan mencapai Rp. 3 sampai Rp.15 juta/kasus.

“Inilah kondisi yang kami hadapi saat ini. Untuk itu, mudah-mudahan semua bumil dapat melakukan persalinan secara normal dan lancar,” imbuhnya.

Sumber : http://www.galamedianews.com