Selamat Ulang Tahun, Iwan Fals

by

Selamat Ulang Tahun, Iwan Fals

Jatinangorku.com – Iwan Fals, yang bernama lengkap Virgiawan Listanto (lahir di Jakarta, 3 September 1961), hari ini berulang tahun ke 50. Pas, gak bisa ditawar. Sudah 30 tahun lebih kiprahnya di dunia musik Indonesia. Sungguh amat layak disebut sebagai seorang legenda hidup.

sumber: iwanfalsmania.com

Menurut Wikipedia, lewat lagunya, ia ‘memotret’ suasana sosial kehidupanIndonesia di akhir tahun 1970-an hingga sekarang, serta kehidupan dunia pada umumnya, dan kehidupan itu sendiri”. Menurut saya, ia tidak hanya sekadar memotret, tapi juga meng-apresiasi-nya, memberikan komentarnya yang jahil, lebih sering pedas sehingga membuat tidak nyaman pihak-pihak yang jadi sasaran tembaknya. Kritikan itu mungkin saja menjadi hal basi, kalau dilontarkan di era keterbukaan seperti sekarang. Tapi, komentar jahilnya itu dilontarkannya saat Orde Baru sedang kokoh menegakkan kekuasaannya secara represif. Ketika itu, sebuah kritik kepada Penguasa, berarti urusan berkepanjangan dengan “pihak yang berwajib

Rasanya tidak ada orang Indonesia yang tidak kenal karya Iwan Fals. Paling tidak ada lebih dari 1.200 entri yang menyangkut Iwan Fals di Kompasiana ini. Karena memang sudah banyak yang mengulasnya, saya membatasi diri hanya sekadar cerita tentang kenangan saya akan sosok Iwan Fals yang remaja SMAK – BPK Bandung, yang masih belum punya rekaman, tapi sudah sering diundang nyanyi “live” di forum-forum mahasiswa saat itu. Lagu ciptaan remaja SMA itu cerdas, bernas, nakal dan pedas kemudian direkam oleh 8EH, Radio Mahasiswa ITB. Rekaman itu kemudian disiarkan bersamaan dengan pembacaan “Buku Putih Mahasiswa ITB” yang menguraikan kesalahan rezim Orde Baru saat itu.

Siaran radio yang mengudara dan mampu menjangkau Nusantara itu tentu saja membuat penguasa berang dan menjadikan penyebab kuat diserbunya kampus ITB oleh tank dan pasukan TNI, dan tindakan lain yang dianggap perlu oleh Penguasa (tindakan apa? Ah sudahlah, itu kan cuma masa lalu!).
Sedikit tentang 8EH

8EH adalah radio yang dioperasikan oleh mahasiswa ITB dan menjadi salah satu unit kegiatan di kampus itu. Berdiri sejak 1960an dengan modal perangkat radio milik Jepang dan berhasil memperoleh call-sign 8EH dari ITU (International Telecommunication Union) dan call sign itulah yang dijadikan nama radio itu. 8EH tercatat sebagai radio kedua setelah RRI, yang mengudara pada jalur FM. Siarannya ketika itu sudah amat rapi, musik, features, berita (tentu saja berita versi mahasiswa), disamping relay Warta Berita RRI.


8EH jadi panduan bagi calon mahasiswa baru karena selalu menyiarkan pada kesempatan pertama, pengumuman hasil test penerimaan mahasiswa baru di ITB. Kegiatannya sebagai corong kegiatan mahasiswa 1977-1978 itu menjadikan radio ini di”breidel” Penguasa dan mati suri cukup lama, sampai tumbangnya rezim 1998.


Salam perpisahan penyiar menjelang radio akan “off-air” ketika itu masih relevan diperdengarkan sekarang: Selamat malam, selamat tidur. Semoga ketika kita bangun esok pagi, Indonesia sudah jauh lebih baik dari hari ini “.

Eh, ngelantur lagi…..

Paling tidak ada 2 lagu dari sang Legenda yang saya ingat, yang sering diperdengarkan di radio itu, dan tidak pernah direkam ulang dalam label besar.

Lagu Pertama bercerita tentang suasana sekitar Kenop 78 (Kebijakan Nopember 1978), ketika keputusan pemerintah untuk melepas nilai dollar, bebas untuk berfluktuasi sesuai pasar. Kebijakan yang hampir seketika melambungkan harga kebutuhan pokok. Lonjakan harga yang tidak diakui Pemerintah, dan turunnya seorang pejabat yang amat berkuasa (yang jelas bukan Presiden RI ) ketika itu ke pasar-pasar dan hasilnya diberitakan luas di media, harga tidak naik dan stabil!

Remaja SMA itu meng-apresiasi kejadian itu dalam lagunya: Semar Mendem, 1978

Dengan langkah tegap berjalan
Seorang pria gendut ubanan
Kau menyusuri lorong pasar
Dikawal ratusan kamera para wartawan
Untuk bahan obrolan buat isi koran

Gemetar para pedagang
Waktu melihat Semar datang
Mengoreksi harga makanan
Mengoreksi harga makanan

Langsung harga turun sekejap
Karena takut Semar menindak
Ibu pejabat yang ikut rombongan
Wah kebetulan mumpung ada kesempatan
Harga barang turun dirasakan

Setelah Semar selesai
Mengoreksi harga makanan
Terpampang dalam surat kabar
Dengan resmi dia umumkan
Harga sembilan bahan pokok tiada perubahan

Ketika ku belanja di pasar
Kaget melihat harga barang
Lalu kuhampiri seorang pedagang
Dan kutanyakan

Berapa harga daging ?
Berapa sayur mayur ?
Berapa gula kopi ?
Berapa bawang putih ?
Berapa cabe merah ?

Mengapa semua harga naik edan edanan ?
Tak cocok sama Semar waktu dia umumkan

Baik adik akan saya tunjukkan
Kata para pedagang
Bila adik mau belanja lebih murah
Pergi saja sana ke Semar ubanan
Pergi saja sana ke Semar ubanan


Lagu Kedua bercerita tentang…….ah, dari judul dan syairnya sudah jelas bisa di-apresiasi, apa yang ingin disampaikan oleh pencipta lagu ini: Pola Hidup Sederhana (Balada Anak Cendana),1978

Anggrek anggrek subur
Dalam taman yang berpagar peluru
Cengkeh kopi dan teh
Serta banyak pabrik di pelosok negeri ini kau punya
Tak kan habis harta tuan tuk tujuh turunan

Pola sederhana itu yang kau minta
Bagi kami hidup berdagang
Bagi kami hidup bertani
Bagi kami pegawai negeri
Bagi kami gelandangan keki
Bagi kami pelacur kelas tinggi
Serta bagi kami yang ABRI

Pola Hidup Sederhana ‘kan kami lakukan
Asal tuan sudah melakukan
Asal tuan sudah melakukan


Syair lagu yang cerdas dan sangat peduli sosial ini diciptakan seorang Iwan Fals ketika masih SMA!. Sayang, tidak ada jejak yang bisa ditelusuri tentang rekaman audio atau visual dari manapun tentang keberadaan 2 lagu ini. Tapi jelas, bahwa sebelum lagu “nakal” Oemar Bakrie dalam album Sarjana Muda meledak secara nasional, 1981, nama Iwan Fals sudah berkibar jauh sebelumnya.

Berikut, adalah lagu nakal Iwan Fals yang lain, juga tentang lagu yang tak pernah direkam, tentang kerinduan seorang anak kepada ayahnya, penyair Wiji Thukul, seorang korban “penghilangan paksa” oleh rezim Orde Baru di ujung kekuasaannya 1998. Syairnya berupa puisi dari Fitri Nganti Wani (putri dari Wiji Thukul) yang dimusikalisasi oleh Iwan Fals. Pulanglah,Pak!


Pulanglah, Pak
Kami sekeluarga menunggumu, Pak
Kawan-kawanmu juga menunggumu, Pak

Pulanglah, Pak
Apakah kamu tidak tahu
Indonesia pecah, Pak?

Pipa-pipa menancap ditubuh pertiwi kita
Asap-asap dari pabrik-pabrik mengotori pertiwi kita, Pak
Limbah-limbah membuat sungai-sungai dan kali-kali tercemar
Kami terpaksa tutup hidung, Pak

Pertiwi kita menangis
Pertiwi kita butuh kamu, Pak
Oooh…

Pulanglah, Pak
Apakah kau tidak ingat aku lagi?
Aku anakmu, Pak
Aku, adik, ibu dan semua yang merindukanmu, Pak
Apakah hanya dengan doa-doa saja
Aku harus menunggu?

Penguasa…! Kembalikan bapakku…!
PENGUASA…! KEMBALIKAN BAPAKKU…!

Sumber : http://forum.kompas.com