Selamatkan Lingkungan dengan Memanen Air

by -64 views

SEBAGAI wilayah tropis dengan dua musim, yakni musim hujan dan kemarau, kejadian banjir di sejumlah wilayah Indonesia saat hujan dan kekeringan saat musim kemarau, sepertinya sudah dianggap hal biasa.

Padahal dengan sejumlah metode sederhana dan sedikit sentuhan teknologi tepat guna, dua musibah tersebut sebenarnya bisa diatasi.

Upaya mengatasi persoalan tersebut yakni dengan mengelola air. Di antaranya mengelola air hujan dengan cara menampung, meresapkan, mengalirkan, dan memelihara dengan tidak minimbulkan gangguan aktivitas sosial, ekonomi, dan ekologi lingkungan yang bersangkutan.

Air hujan ditampung untuk dipakai sebagai sumber air bersih dan perbaikan lingkungan hidup, dan diresapkan untuk mengisi air tanah.

Salah satu metode atau teknologi tepat guna dalam mengelola air hujan yakni dengan memanen air hujan dengan alat pemanen air hujan.

Banyak manfaat dari memanen air hujan. Mulai dari berkurangnya banjir, berkurangnya kekeringan, berkurangnya masalah air bersih, berkurangnya penurunan muka air tanah, dan berkurangnya masalah lingkungan.

Menurut Kabid Program dan Perencanaan Umum Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Cimanuk-Cisanggarung (Cimancis) Dwi Agus Kuncoro, memanen air hujan adalah peluang untuk menghemat penggunaan air tanah dan tentu saja kegiatan yang ramah lingkungan.  

Menurut Agus, memanen air hujan adalah kegiatan menampung air hujan yang jatuh ke atap rumah dengan menggunakan talang, kemudian menampungnya, bisa dengan tangki atau alat penampung air yang ditanam.

Kalau diaplikasikan secara massal, teknologi panen hujan bisa menjadi solusi untuk mengatasi banjir sekaligus menghemat pemakaian air tanah.

“Teknologinya sangat sederhana, dan bisa dibuat sendiri, karena peralatannya tersedia di pasaran, “ kata Agus sembari menunjukkan rangkaian pipa atau instalasi alat pemanen hujan yang dipasang di kantor BBWS Cimancis di Jalan Pemuda Kota Cirebon, Senin, 22 Januari 2018.

Alat sederhana

Alat pemanen hujan, merupakan alat sederhana yang terdiri dari tiga penyaring.

Begitu air dari talang mengalir, masuk ke saringan pertama, yang berfungsi untuk menyaring daun-daun yang terbawa air dari talang.

Saringan kedua menggunakan bola plastik yang berfungsi untuk menyaring debu dan lumpur yang terbawa oleh air. Debu yang terperangkap dikeluarkan dengan selang kecil.

Setelahnya, air yang masuk ke pipa yang telah ditempatkan penyaring debu, berupa saringan tahu.

“Sehingga air yang ditampung di toren atau alat penampung air, adalah air bersih dan jernih. Air yang meluber dari penampung, dialirkan ke sumur resapan, untuk mengisi air tanah, “ jelas Agus.

Menurut Agus, pemasangan alat pemanen hujan di kantor BBWS Cimancis dan di mesjid yang ada di kompleks kantor BBWS, dilakukan belum lama, menjelang musim hujan sekarang ini. “Jadi musim hujan sekarang ini, baru panen pertama,” katanya.

 

Untuk air minum

Di BBWS sendiri kata Agus, air hujan yang dipanen bahkan dimanfaatkan juga untuk minum karyawan.

“Setelah diproses dengan alat elektrolisa, pH air hujan bahkan lebih bagus dari air galon. Setelah dilakukan tes laboratorium pH air galon diproses dengan alat elektrolisa sebesar 7,98 sedangkan air hujan 8,84,” katanya.

Air galon bahkan tidak mengandung mineral Mangan yang sangat dibutuhkan tubuh untuk metabolisme tubuh,  aktivasi enzim,  penyerapan vitamin dan lainnya.

“Hasil tes laboratorium, kandungan mineral Mangan dari air hujan sebesar 0,04 mg/liter sedangkan air galon tidak ada sama sekali, “ katanya.

Selain itu BBWS Cimancis juga menerapkan metode panen hujan di Pondok Pesantren Kebon Jambu Babakan Ciwaringin Kabupaten Cirebon.

Selain pemasangan alat pemanen air hujan, di pondok pesantren tempat digelarnya Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI) I pada April 2017 lalu, juga dibuatkan sejumlah lubang biopori.

Dijelaskan Agus, hak kita yang sekarang ini hidup akan air adalah air hujan dan air permukaan, termasuk mata air.

“Sedangkan air tanah adalah hak anak cucu kita sebagai penerus kehidupan ini. Marilah dengan bijak kita mengelola, air hujan dan air permukaan sebagai sumber pasokan air bagi kita yang masih hidup sekarang,” kata Agus.

Dikatakan Agus,  menjadi kewajiban kita untuk mewariskan air tanah yang melimpah kepad anak cucu kita sebagai generasi penerus kehidupan di dunia ini. “Insya Allah itu menjadi amal jariyah kita,” tuturnya.

Terkait dengan biaya, menurut Agus sangat relatif, karena tergantung apakah dibuat sendiri atau menyuruh orang, luas atap rumah, serta sudah terpasang atau belum talang air, sepanjang atap rumah.

Namun sebagai gambaran, salah seorang aktivis lingkungan dan sungai Bambang Sasongko yang memasang alat panen hujandi rumahnya di Suranenggala kabupaten Cirebon, menghabiskan anggaran sampai Rp 2,5 juta.

“Tapi memang talang yang dipasang di sepanjang atap rumah seluas 750 meter2 dipasang baru. Saya juga menyuruh orang. Sedangkan toren yang dipasang untuk kapasitas air 1.000 liter, “ kata Bambang

 

 

 

Sumber : http://www.pikiran-rakyat.com