Senapan Angin Cipacing Aset Kab. Sumedang

by -53 views

Senapan Angin Cipacing Aset Kab. Sumedang

Jatinangorku.com – Upaya meningkatkan produktivitas para perajin senapan angin di Jatinangor, Kab. Sumedang, terutama di Desa Cipacing, Pemkab Sumedang akan mendorong mereka untuk bergabung dengan koperasi sekaligus upaya pelestarian.

“Kerajinan senapan angin di Cipacing merupakan aset dan potensi Kab. Sumedang, sehingga jangan punah. Saya turut prihatin, karena omzet mereka kini turun 70 persen,” kata Kadisperindag Kab. Sumedang, Dedi Hermawan Charis, usai pertemuan antara pemda dan ratusan perajin di kantor Kecamatan Jatinangor, Selasa (17/9).

Tujuan pembinaan agar mereka tidak kehilangan mata pencaharian. Para perajin pun termotivasi dan tidak frustrasi dengan menurunnya pendapatan saat ini.

Ia berusaha merangkul semua komponen di pemerintahan untuk turut menumbuhkembangkan pelaku ekonomi kreatif di Jatinangor, termasuk perajin bedil angin itu.

“Tekad itu akan kami implementasikan dengan pembangunan sentra kerajinan (galeri) yang akan dijadikan sarana promosi para perajin senapan angin. Merosotnya pendapatan salah satunya karena di Jatinangor tak ada galeri yang representatif,” terangnya.

Mengutip keterangan dari perajin, penurunan omzet bukan hanya karena masalah modal, tetapi juga lemahnya promosi. 

“Kita akan dorong mereka untuk mempromosikan karyanya dalam pameran lokal, regional, nasional hingga internasional. Usaha mereka akan berhasil jika ada komunikasi yang baik, juga kesiapan antara perajin dan pemda,” katanya.

Sumedang tak hanya memiliki kerajinan senapan angin saja. Ada juga perajin batik, ukiran, dan lukisan. “Ke depannya akan kita manfaatkan semua potensi yang ada. Bisa saja ditempatkan di Saung Budaya Sumedang (Sabusu) jika kontrak dengan pihak ketiga tuntas,” ujarnya. 

Harga kedelai

Sementara terkait kenaikan harga kedelai, Dedi mengatakan, tidak hanya dikeluhkan para pengusaha tahu dan tempe saja. “Beberapa pengusaha pedukung produsen tahu seperti perajin bongsang, petani cabai, dan pedagang lontong pun turut merasakan penurunan omzet,” katanya.

Untuk itu Pemda Sumedang berkoordinasi dengan Menteri Perdagangan guna membahasnya.

“Pembahasan terkait beberapa tuntutan anggota Koperasi Pengusaha Tahu dan Tempe Indonesia (Kopti) agar harga kedelai normal, juga penunjukan Bulog sebagai pengaman harga kedelai. Insya Allah, memasuki bulan November harga kedelai kembali normal,” katanya.

Sumber : http://klik-galamedia.com