Sering Kehilangan Helm, Mahasiswa MIPA Unpad Buat Loker Elektrik

by

Gunakan Kartu, Cara Kerjanya Seperti e-Tol

Berawal dari seringnya kehilangan helm saat diparkir di kampus, dua mahasiswa jurusan Teknik Elektro Fakultas MIPA Unpad, membuat inovasi tempat penyimpanan helm elektrik. Seperti apakah cara membuatnya, berikut liputannya.

IMAN NURMAN, Jatinangor

ADALAH Moch Iman Fahri dan Aulia Ramadhita mahasiswa semester 6 dan semester 4. Mereka yang membuat tempat penitipan helm elektrik atau mereka menyebutnya Sistem Anti maling helm berbasis RFID.

Ya, sepintas loker penitipan helm tersebut kayaknya penitipan helm biasa. Namun ketika dicermati ternyata cara membuka lokernya itu dengan kartu mirip e-money atau e-tol.

Dengan diregistrasikan terlebih dahulu kartu tersebut dan ditempelkan disebuah alat di pinggir loker tersebut, secara otomatis pintu loker akan terbuka. Sederhana memang cara kerjanya namun ide briliannya itu yang membuat masyarakat dan rekan rekannya kagum.

Bagaimana tidak, disaat rawannya kehilangan helm saat diparkir di kampus atau mall, ada ide jenius yang tidak terpikirkan orang lain. Namun bagi Iman dan Aulia ide itu dijadikan bahan penelitian dan uji kompetisi yang digelar Dikti.

“Orang tidak memperhatikan keamanan helm, padahal sering disatroni maling. Kemudian jasa parkir dan perkantoran kadang tidak memperhatikan se-safety itu. Nah, kami mencoba membuat inovasi sebuah loker penitipan helm yang cara membukanya hanya diketahui oleh pemilik helm,” kata Moch Iman.

Menurut Iman, kenapa dipilih loker elektrik karena mudah dan gampang dibawa. Berbeda dengan loker yang dikunci dengan gembok, kadang kuncinya lupa membawa atau pencuri punya duplikat kunci. Jika dengan sistem kartu tidak mungkin diduplikat dan digandakan orang lain.

“Cara kerjanya tinggal ditrmpelkan saja ke alat penempel seperti e-tol. Nanti secara otomatis pintu akan terbuka,” katanya.

Bagi pemilik helm yang berminat, kata dia, sebelumnya didata dulu identitasnya dan dicocokan dengan kartu elektrik.
Namun saat ini, lanjut dia, hasil karyanya baru berjumlah lima belas loker. Sehingga belum bisa menerima layanan jasa penitipan helm.

“Ini kan baru penelitian jadi belum diproduksi banyak. Sekarang masih proses pengembangan dan perbaikan agar loker elektronik ini bisa selesai sempurna,” katanya.

Dia menambahkan inovasinya itu selain progran kreativitas mahasiswa juga tugas dari kampus untuk berinovasi membuat suatu karya ilmiah.

“Awalnya diajuin ke dosen untuk mengirimkan proposal ke Dikti. Alhamdulillah diijinin dosen dan kami berdua didampingi dosen pembimbing mulai mengerjakan itu,” ujarnya.

Karena terbilang ide brilian, kata dia, produknya itu rencananya mau dihak ciptakan diajukan ke Menhumham. Namun karena belum sempurna jadi fokus ke penyempurnaan dulu.

Ditanya apakah produknya mau dijual komersil, dia menjawab sampai saat ini belum terpikirkan. Sebab belum menghitung pangsa pasar dan biayanya berapa jika untuk memproduksi massal.

“Untuk membuat 15 loker saja membutuhkan waktu 3 bulanan. Belum biayanya yang lumayan besar. Semisal membeli alat penempel kartu elektronik dan mebeler kayu. Hasil karya kami juga meski belum selesai sudah menghabiskan biaya Rp 6juta,” tuturnya.

Namun, kata dia, bukan perkara susah jika ada perusahaan, kantor, atau intansi yang membutuhkan loker elektronik itu asal disesuaikan dengan waktu pengerjaan, tenaga pekerja, dan biaya.

“Kalau mau produksi massal resikonya harus tambah SDM, dan biayanya juga akan bertambah besar. Saat ini kami hanya mau memikirkan prestasi dulu bukan royalti,” tandasnya.

 

 

 

Sumber : https://www.sumedangekspres.com/