“Si Monyong” Serang Areal Persawahan

by -74 views

Areal persawahan seluas 80 hektare yang ada di Desa Sukamulya, Kec. Rancaekek, Kab. Bandung, diserang hama tikus. Binatang pengerat itu menggerogoti tanaman padi berusia antara 30 hingga 40 hari. 

Serangan hama itu ditanggulangi para petani dengan cara menabur makanan yang sudah dicampuri racun di sejumlah titik di areal persawahan. Namun, upaya itu dirasakan kurang efektif. Tikus tidak seluruhnya mati sehingga masih banyak yang berkeliaran.

“Hama tikus menyerang cukup gencar. Batang padi yang baru berusia antara 30 hingga 40 hari itu digerogoti. Para petani yang tergabung dalam kelompok ternak melakukan langkah pemberantasan dengan menabur makanan yang sudah dicampuri racun,” tutur Ketua Kelompok Tani Sri Tani, Opo Subandar, Selasa (4/2).

Lebih jauh petani yang tinggal di Kampung Rancapanjang, Desa Sukamulya, Kec. Rancaekek ini mengatakan, di Desa Sukamulya terdapat 180 hektare sawah yang dikelola 175 petani. Para petani itu terhimpun dalam 7 kelompok tani. Masing-masing kelompok terdiri atas 25 petani. Mereka cukup gencar memberantas hama tikus untuk menyelamatkan tanaman padinya.

Dikatakan, tanaman padi di kawasan itu mulai diserang hama tikus saat berusia satu minggu. Para petani langsung melakukan langkah penindakan, meski kurang maksimal. Menurutnya, pemberantasan hama tikus lebih efektif dilakukan dengan menggunakan tiran atau bahan pemberantas dengan cara kerja seperti mercon.

“Cara kerja bahan pemberantas itu dilakukan dengan memasukkannya ke lubang tikus, kemudian dibakar. Dengan bahan ini, tikus langsung mati di dalam sarangnya. Kami sudah mengajukan bantuan ke pemerintah, namun hingga saat ini bantuan yang diajukan belum juga datang,” katanya.

Akibat serangan hama tikus, hampir 50 persen tanaman padi rusak. Jika langkah pemberantasan tidak dilakukan peningkatan dengan menggunakan tiran, Opo khawatir serangan hama tikus semakin merajalela sehingga terancam gagal panen.

Namun menurut Opo, serangan hama tikus yang lebih gencar terjadi di Desa Haurpugur, Sangiang, Cangkuang, dan Desa Bojongsalam. Di kawasan ini, kerusakan tanaman hampir mencapai 90 persen. Tanaman padi yang tersisa hanya bagian sisinya saja. Sedangkan bagian tengahnya nyaris rata dengan permukaan sawah.

“Saya tahu persis kondisi areal persawahan di Desa Haurpugur. Di tempat ini saya memiliki sawah seluas 500 tumbak yang juga hampir habis diserang hama tikus. Di tempat ini, tanaman padi berusia sekitar dua bulan. Saya masih ingat, saat petani di Desa Sukamulya mulai menyemai bibit, di Desa Haurpugur dan yang lainnya sudah mulai menanam,” katanya. 

Akibat serangan tikus yang sangat ganas, dipastikan areal pertanian di Desa Haurpugur, Sangiang, Cangkuang, dan Bojongsalam bakal mengalami gagal panen. Para petani seakan sudah kehabisan akal untuk menyelamatkan padi yang ditanamnya.