Stok Pangan di Jatigede Aman

by -191 views

Stok pangan di wilayah genangan Waduk Jatigede, secara umum masih relatif aman. Hal itu, terbantu dari penyaluran beras warga miskin (raskin). Terlebih lagi, tahun ini jatahnya mengalami kenaikan. Selain itu juga, sebagian warga masih punya sisa uang kadeudeuh dari pemerintah untuk bekal hidup sehari-hari. Untuk menghasilkan pendapatan, sebagian masyarakat pun kreatif berjualan makanan di halaman rumahnya.

Kondisi itu, menyusul sebelumnya sebagian warga Jatigede dikabarkan mengalami rawan pangan. Mereka mengalami rawan pangan, dampak kehilangan mata pencahariannya sebagai petani, setelah lahan sawah dan kebunnya tergenang Waduk Jatigede. Akibatnya, banyak warga menganggur dan tak punya penghasilan untuk menghidupi keluarganya

“Rawan pangan di Jatigede, masih kriteria potensi, belum sampai terjadi kelaparan. Hasil pengecekan pak bupati termasuk saya sendiri di lapangan beberapa waktu lalu, alhamdulillah masyarakat masih bisa makan. Ada yang makan dua kali sampai tiga kali sehari. Kondisi itu, terbantu dengan penyaluran beras raskin di masyarakat. Dengan penyaluran raskin, stok pangan di daerah Jatigede, aman. Untuk penguatan stok, kami sudah mengajukan kepada provinsi bantuan 100 ton beras,” ujar Asisten Pembangunan Sekretariat Daerah Kabupaten Sumedang. Dede Hermasah di ruang kerjanya, Kamis 16 Maret 2017.

Menurut dia, meski stok pangan di daerah Jatigede aman, kondisi rawan pangan di daerah Jatigede harus diatasi bahkan kini menjadi perhatian serius Pemkab Sumedang. Penanganannya, meliputi jangka pendek, menengah dan panjang. Penanganan jangka pendek, dilakukan dengan menggairahkan kembali semangat masyarakat Jatigede untuk menciptakan usaha baru, walaupun sekedar usaha kecil-kecilan.

“Misalnya, menanam cabai rawit atau bawang merah di 10 polibag di halaman rumahnya. Selain sambalnya untuk makan sehari-hari di rumahnya, sisa cabai rawitnya bisa dijual supaya menghasilkan uang. Ibu-ibu juga bisa membuat makanan ringan, seperti opak, rengginang dan keripik singkong atau pisang untuk dijual. Usaha lainnya, bisa mendirikan warung kecil di rumahnya. Intinya, harus ditumbuhkan semangat bekerja dan berusaha masyarakat Jatigede, setelah mereka kehilangan mata pencahariannya sebagai petani,” ujarnya.

Bagi kepala keluargnya pun, kata Dede, mesti semangat menciptakan mata pencaharian baru. Ketika Waduk Jatigede sudah digenang, secara otomatis mata pencaharian mereka beralih. Dari petani menjadi nelayan atau pembudidaya perikanan tangkap. Ikan hasil tangkapannya, bisa dijual langsung ke restoran. Bisa juga diolah menjadi dendeng atau abon ikan. Produk makanan olahan ikan tersebut, bisa dijual ke konsumen sehingga menghasilkan pendapatan untuk menghidupi keluarganya.

“Nah, bagaimana cara mengolah produk makananannya? mereka bisa dilatih di Balai Latihan Kerja (BLK), Disnakertrans. Setelah mereka terampil, pemerintah akan menyediakan sarana dan prasarana pendukungnya. Misalnya, menyediakan peralatan atau mesin pengolah makanan,” ucapnya.

Khusus pemasaran ikan, jika restoran hanya menerima ikan khas Jatigede dalam kondisi hidup supaya segar, bisa saja dibuat kolam kecil untuk menampung ikan hasil tangkapan supaya tetap hidup. Bila perlu, pemda mengajukan kepada pemerintah pusat untuk penyediaan cold storage (ruang pendingin) untuk membekukan ikan hasil tangkapan. Usaha lainnya, seperti memproduksi gula aren. Seandainya di daerah Jatigede banyak masyarakat yang menyadap pohon aren untuk menghasilkan gula aren, bisa saja dibangun pabrik kecil yang memproduksi gula semut.

“Jadi banyak cara, untuk menciptakan pekerjaan baru. Kami siap membantu memasilitasi diklat keterampilan kerja di BLK dan akan berupaya menyediakan sarana dan prasarana pendukungnya,” kata Dede