Suatu Kebanggaan Akan Identitas Kelompok-kelompok Sosial

by -106 views

Suatu Kebanggaan Akan Identitas Kelompok-kelompok Sosial

Jatinangorku.com – Manusia dalam hidup di dunia ini tidak bisa hidup sendiri, mereka selalu bersosialisasi atau senang berkelompok, pada dasarnya manusia diciptakan di dunia ini untuk saling mengenal satu sama lainnya, setelah saling mengenal satu sama lainnya akhirnya terjalin suatu ikatan tertentu, suatu ikatan tertentu terjadi karena banyak hal, bisa karena menemukan teman  baru, bisa karena menemukan sesuatu hal yang baru, bisa pula karena mempunyai kecocokan yang sama atau hobi yang sama dsb. Dalam hal ini manusia biasanya setelah saling mengenal akan berkumpul dan kemudian membentuk kelompok-kelompok sosial yang pada akhirnya akan membentuk suatu identitas pada kelompok-kelompok sosial di masyarakat, mengapa hal ini bisa terjadi.

Fenonema seperti itu bukan suatu kebetulan. Teori mengenai identitas sosial yang digagas oleh Henri Tajfel dan John Turner bisa menjelaskannya. Menurut mereka, setiap orang cenderung mengelompokkan diri dalam berbagai grup sosial. Ragam kumpulannya sangat banyak. Kelompok bisa berasal dari kesamaan kelas sosial, minat atau hobi, hingga regional. Setelah berkelompok, publik mencari suatu kebanggaan bersama, sehingga akhirnya melahirkan suatu kebanggan akan identitas kelompok sosial tersebut.

Ahli dinamika kelompok, Marvin Shaw (1981), berpendapat bahwa semua kelompok memiliki suatu kesamaan: angota mereka saling berinteraksi. Oleh karena itu, ia mendefinisikan sebuah kelompok sebagai dua atau lebih orang yang saling berinteraksi dan mempengaruhi satu sama lain. Kelompok kelompok yang berada membatu kita memenuhi kebutuhan manusia yang berbeda, seperti berafiliasi (untuk saling memiliki dan terkait dengan orang lain), untuk mencapai sesuatu, dan untuk mendapatkan suatu  identitas sosial (johnson & dkk., 2006)

Olahraga bisa menjadi salah satu jalan bagi publik dalam suatu kelompok untuk menunjukkan identitasnya. Dari sini, alasan di balik pesatnya perkembangan klub luar ibu kota. Pasalnya, publik dari luar ibu kota berusaha mencari sesuatu yang bisa membanggakan kotanya. Sepakbola adalah pilihan populer. Sukses di sepak bola diyakini sanggup mengangkat gengsi sehingga reputasi kota terangkat.

Selain identitas kelompok sosial yang terbentuk karena kesamaan regional, kelompok-kelompok sosial yang terbentuk karena kesamaan minat atau hobi pun banyak sekali terbentuk, tumbuh dan berkembang di kalangan masyarakat. Mereka membentuk itu karena mempunyai minat dan hobi yang sama, karena kesamaan itulah akhirnya dijadikan sarana aktualisasi diri untuk mengumpulkan orang-orang yang mempunyai kesamaan tersebut sehingga pada akhirnya akan membentuk suatu kebanggaan identitas kelompok sosial tersebut. Terkadang dalam kehidupan sehari-hari, tanpa kita sadari bahwa kita sering mengenakan sebuah atribut, baik itu sebuah pakaian, atau atribut pelengkap lainnya (emblem/Jaket), terkadang sebuah atribut yang kita kenakan dapat mewakili diri kita, seperti status sosial kita.

Mungkin salah satu contoh kelompok sosial yang terbentuk karena kesamaan akan minat dan hobi bisa dilihat dari fans JKT48, dimana mereka terbentuk karena mempunyai kesukaan yang sama terhadap JKT48, tetapi kenapa menyukai JKT48 bisa dikatakan hobi, ya itu karena mereka mempunyai hobi yang sama dalam dunia idoling, hobi dunia idoling tidak hanya sebatas menyukai Idol Group JKT48 beserta para membernya, tetapi juga ada hal yang lebih dari itu, misalnya suka mengkoleksi SWAG (Stuff We All Get) atau berbagai macam merchandise dan pernak-pernik yang berbau JKT48 misalnya seperti PP (Photo Pack), gantungan kunci, baju, sticker, Light Stick dsb. Tetapi selain itu juga ketika mereka berkumpul dalam suatu tempat misalnya untuk melihat perform JKT48, mereka selalu meneriakkan yel-yel atau bisa juga sebagai chant mix yaitu suatu kata-kata teriakan khusus untuk penyemangat dan mendukung JKT48, mirip halnya dengan yel-yel suporter sepakbola ketika menonton sepakbola di stadion, ada juga tarian atau koreografi khusus ketika menonton perfom JKT48 yaitu wotagei suatu tarian dengan gerakan-gerakan tertentu yang tujuannya juga untuk mendukung JKT48.

Biasanya dalam suatu kelompok sosial selain berkumpul bersama, biasanya mereka akan membicarakan mengenai tentang segala hal yang ada dalam suatu kelompok tersebut, selain itu juga saling memberi dan tukar-menukar informasi tentang suatu kelompok tersebut.

Suatu kelompok sosial biasanya akan membentuk suatu identitas tersendiri yang tentunya berbeda dengan kelompok yang lainnya, hal ini yang akan membentuk suatu kebanggaan  tersendiri akan identitas kelompok sosial tersebut.

Tetapi tidak bisa dipungkiri, dengan semakin banyak bermunculannya kelompok-kelompok baru, maka kadangkala bisa menimbulkan gesekan-gesekan dengan kelompok lainnya, hal ini bisa terjadi lantaran perbedaan identitas antar kelompok yang satu dengan yang lainnya. Dengan mereka berkelompok akhirnya akan menimbulkan suatu kebanggan tersendiri akan identitas kelompoknya, sehingga ketika terjadi gesekan maka akan menimbulkan konflik, dimana mereka akan membela kebanggaan yang ada di kelompok tersebut.

Kita tidak hanya mencari kehormatan bagi diri kita, namun juga kebanggaan dalam kelompok kita (Smith dan Taylor, 1997). Lebih jauh lagi, melihat kelompok kita sebagai kelompok superior mendorong kita untuk merasa jauh lebih baik. Kita seolah-olah berkata, “saya seorang X [nama kelompok anda]. X baik. Oleh karena itu, saya juga baik.”

Karena identifikasi sosial yang kita lakukan, kita akan menyesuaikan diri dengan norma kelompok kita. Kita mengorbankan diri kita bagi tim, keluarga, dan negara. Dan semakin penting identitas sosial kita dan semakin kuat kita merasa terlekat dengan suatu kelompok, semakin besar kemungkinan kita untuk melakukan reaksi mencurigai ancaman dari kelompok lain (Crocker dan Luhtanen, 1990., Hinkel dkk., 1992)

Pada umumnya individu-individu membagi dunia sosial ke dalam dua kategori yang berbeda yakni “kita” dan “mereka”, “kita” adalah ingroup sedangkan outgroup adalah mereka. Ketika terjadi persaingan antar dua kelompok, maka kelompok lain sebagai out-group dipersepsikan sebagai musuh atau yang mengancam (Sear., dkk., 1994). Banyaknya kategori yang menyusun identitas sosial terkait dengan dunia interpersonal. Mereka mengindikasikan sejauh mana kita serupa dan tidak serupa dengan orang lain disekitar kita. Ketika konteks sosial seseorang berubah, membangun sebuah identitas baru dapat menjadi sumber stress yang besar (Sussman, 2000). Individu mengatasi stress tersebut dengan berbagai cara yang berbeda. Dalam banyak kasus, setiap kelompok berusaha untuk menjadikan anggotanya memiliki identitas sosial yang kuat dan interen terhadap kelompoknya. ketika seseorang telah memiliki identitas yang kuat terhadap kelompoknya, maka secara psikologis, ia akat sangat terikat dan pada akhirnya akan melahirkan solidaritas dan komitmen terhadap kelompok (Zillmann, dkk., dalam Jacobson, 2003). Hal senada juga disampaikan oleh Vugt dan Hart (2004), yang menyatakan bahwa identitas sosial akan mempengaruhi loyalitas dan intregritas anggota kelompok.

Menurut Hogg dan Abram (dalam Nuraeini, 2005) menjelaskan identitas sosial sebagai rasa keterikatan, peduli, bangga dapat berasal dari pengetahuan seseorang dalam berbagai kategori keanggotaan sosial dengan anggota yang lain, bahkan tanpa perlu memiliki hubungan personal yang dekat. Secara psikologis, Identitas kelompok berpengaruh terhadap perilaku anggotanya. Ada rasa kebanggaan dan perasaan senang dengan identitas yang dimilikinya. Identitas sosial yang yang tinggi nantinya bisa melahirkan sikap konformitas terhadap kelompok. Menurut Zillmann, dkk (dalam Jacobson, 2003) Menimbulkan rasa pertemanan dan solidaritas antar anggota kelompok. Pada situasi-situasi tertentu, ini bisa menimbulkan dampak negatif, yaitu perilaku agresif. misalkan kerusuhan antar sesama fans penggemar suatu grup musik atau kerusuhan antar suporter bola. Setiap individu memiliki identitas, baik secara personal maupun secara sosial. Ketika individu akan bergabung pada sebuah kelompok, pada dirinya melekat identitas personal dan ketika ia telah menjadi anggota sebuah kelompok, maka ia akan mengidentifikasi terhadap kelompoknya, yang menyebabkan identitas personalnya terabaikan dan akan melebur atau tertutupi oleh identitas sosial (Vugt & Hart, 2004). Namun demikian, hubungan antara identitas personal dengan identitas sosial sangat dekat, dalam artian identitas personal dapat menembus identitas sosial kelompok (Jacobson.2003). selain itu, dalam memililih kelompok, seseorang akan mempertimbangkan kesamaan antara identitas personal dengan identitas kelompok yang akan dipilihnya. Hal ini dikarenakan untuk memudahkan individu dalam melakukan penyesuaian terhadap kelompoknya. Selain itu, pengaruh kelompok terhadap individu sangat kuat bila kondisi kelompok tersebut mengalami suatu ketidakadilan. Ada rasa senasib dan sepenanggungan. Bila kondisi semacam itu terjadi, maka individu dalam kelompok akan cenderung patuh terhadap kelompok. Apa yang disuruh kelompok dilakukan. Walaupun hal itu melanggar hukum. Dengan kata lain konformitas individu terhadap kelompok dapat berpotensi memunculkan perilaku agresif (Sarwono, 1999). Melihat kondisi yang sesungguhnya di masyarakat, identitas kelompok (etnis, agama, organisasi) yang memiliki prinsip, karakter dan identitas sosial kuat, menunjukan seringya terjadi konflik, yang tak jarang berujung pada perilaku agresi. misalkan, konflik di maluku, poso, dayak dengan Madura, dan Bonek (surabaya) dengan Jack mania (persija). Proses identifikasi yang terjadi dalam kelompok memiliki dampak terhadap perilaku anggota kelompok tersebut. Kelompok yang memilki identitas sosial kuat akan secara langsung atau langsung memiliki keterikatan emosional antaranggota kelompok. Identitas sosial yang dibangun kelompok bisa melaui simbol, nilai, budaya, bahasa dan visi. Ketika semua sudah terinternalisasikan pada setiap anggota kelompok, maka timbul komitmen, solidaritas, dan tanggung jawab terhadap sesama anggota dan kelompok. Banyak perilaku agresif yang terjadi antar kelompok karena perasaan tidak terima anggota kelompoknya disakiti oleh kelompok lain. Identitas sosial telah mengikat setiap anggota kelompok, dan telah menjadikan arah petunjuk anggota dalam bersikap dan berperilaku. Ketika tujuan kelompok tidak sesuai dengan tujuan individu, maka terjadi sebuah dilema dalam diri individu. Dilema ini terjadi karena ada kepentingan pesonal dan kelompok berbeda. Bila tidak mengikuti norma kelompok, maka ia akan “ditinggalkan” atau tidak dihargai, sedangkan bila diikuti akan bertentang dengan identitas personalnya. Kalau ia memiliki komitmen kuat terhadap kelompok, maka norma kelompok akan diikuti. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian Tolunay (2006) yang menyatakan bahwa individu akan dipengaruhi oleh mayoritas pendapat dari kelompok. Banyak kasus yang menunjukkan bahwa perilaku agresi yang dilakukan karena tuntutan dari mayoritas pendapat kelompok, dengan hal itu perilaku agresi terlegitimasi oleh kelompok. Bila itu terjadi, potensi konflik yang menjurus kepada perilaku agresif bisa terjadi. Menurut Triands (dalam Setiadi, 2001) perilaku agresif sering muncul atau ditemukan pada out-group. Misalkan konflik antara suku Madura dan dayak atau kasus tawuran antar pelajar. Selain itu, dalam interaksi antarkelompok terjadi perbandingan sosial. Setiap anggota berusaha membandingkan kelompoknya dengan kelompok lain. dalam perbandingan sosial itu, seseorang cenderung menilai kelompoknya lebih positif atau lebih baik dari kelompok lainnya, kelompok lain sering dianggap sebagai suatu hal yang negatif. Penilaian negatif ini yang nantinya berpotensi menimbulkan perilaku agresif.

Kemudian satu hal yang tidak dapat kita kontrol adalah ketika seseorang atau kelompok-kelompok berkumpul dalam satu tempat menjadi sebuah massa yang banyak. Misalnya ketika suatu massa berkumpul dalam stadion untuk menonton sepakbola, atau juga massa pada saat menonton konser musik. Dari hal tersebut berkumpullah berbagai macam orang dan kelompok-kelompok yang berbeda, memang jika membicarakan tentang suporter atau fans yang membeludak itu, mereka sulit untuk dikontrol. Secara psikologis, massa yang berkumpul telah melebur menjadi jiwa massa. Keadaan ini bisa jadi chaos jika tak terkendali.

Dari kata dasarnya, selayaknya suporter adalah pribadi-pribadi yang memberikansupport atau dukungan kepada suatu yang kita sukai. Namun, kadangkala, suporter / fans justru menjadi hakim yang lalim, dari cinta menjadi benci. Ada fans yang digolongkan sebagai “ultra”, yang memiliki fanatisme berlebihan, bahkan menebarkan kebencian kepada kelompok lain yang tidak mempunyai kesamaan identitas kelompok dengan dirinya.

Dalam psikologi massal, ketika seseorang atau kelompok berkumpul dalam suatu tempat yang melebur menjadi jiwa massa, kemudian ada satu atau dua orang yang memulai suatu hal atau gerakan yang mungkin bisa disebut sebagai “provokasi’ maka massa yang ada akan ikut-ikutan untuk melakukan suatu hal atau gerakan yang dilakukan oleh beberapa orang tersebut. Dalam hal ini seseorang yang dalam kehidupan nyatanya dia adalah orang yang berperilaku baik, bahkan mungkin tidak terlalu menonjol ketika berkumpul dalam suatu kumpulan massa perilakunya akan berubah 180 derajat, sehingga bisa saja perilakunya bisa menjadi beringas karena terpengaruh oleh jiwa massa yang berkumpul menjadi satu. Mungkin harus disadari bahwa tidak semuanya dapat kita kontrol, terutama massa, kita seharusnya sadar untuk berhati-hati ketika berhadapan dengan massa.

Kita mesti pahami adalah ketika kita menjadi bagian dari suatu kelompok sosial, kita harus bisa mengendalikan diri untuk tidak terlalu berlebihan dalam bertindak atas nama kelompok tertentu, karena itu semua akan adanya resikonya, berkumpul bersama adalah bentuk kegiatan manusia untuk bersosialisasi dengan sesama, yang pada akhirnya akan menimbulkan suatu kebanggan akan identitas sosial kelompok tersebut, tetapi bukan berarti ketika kita berbeda identitas dengan kelompok lain, bukan berarti kita harus menentangnya, tetapi kita harus saling menghormati, respect, dan menghargai. Biarkanlah perbedaan ini menjadi warna tersendiri untuk sebuah keragaman yang akan membuatnya menjadi unik, biarkanlah setiap kelompok-kelompok sosial mempunyai kebanggan akan identitasnya sendiri tanpa harus kita mempertentangkannya.

Sumber : http://sosbud.kompasiana.com