Tanpa Ada Literasi Media, Perkembangan Televisi Berdampak Buruk pada Masyarakat

by -115 views

 

 

Wakil Gubernur Jawa Barat Deddy Mizwar mengatakan perkembangan industri televisi di tingkat nasional atau daerah yang ada di Indonesia harus diimbangi dengan literasi media.

“Stasiun televisi muncul dengan program-program yang beragam dengan kemasan yang sedemikian rupa, sehingga mengundang pemirsa agar bisa menontonnya. Namun apakah hal ini diimbangi dengan literasi atau melek media di masyarakat,” kata Deddy Mizwar dalam seminar “Menumbuhkembangkan Industri dan Konten Kreatif Untuk Televisi”, yang digelar oleh Asosiasi Televisi Seluruh Indonesi (ATVSI) di Bandung, Kamis.

Ia mengatakan Televisi sangat berpengaruh dalam kehidupan berbangsa dan bernegara dan media bisa menjadi kekuatan besar yang mempengaruhi pola pikir masyarakat. Begitu besarnya pengaruh media ini.

“Tapi apakah ini diimbangi dengan gerakan literasi media kepada masyarakat? Melek media, melek terhadap fungsi-fungsi media di masyarakat. Saya kira ini perlu menjadi perhatian kita bersama, khususnya ATVSI,” kata dia.

Ia mengatakan apabila hal tersebut tidak diimbangi dengan literasi terhadap media maka dikhawatirkan masyarakat, baik masyarakat kota maupun desa akan terpengaruh dengan hal-hal buruk yang dihadirkan oleh media.

Menurut dia, selain Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) diperlukan peran masyarakat secara langsung untuk mengantisipasi dampak negatif dari media.

Hal ini, lanjut Wagub Jabar, diperlukan karena konten yang dihadirkan oleh media khususnya televisi akan sangat memberikan pengaruh terhadap sendi-sendi kehidupan yang ada di masyarakat.

“Salah satu konten yang saat ini bisa dikembangkan yaitu bidang ekonomi kreatif. Yang sangat diharapkan membantu pertumbuhan ekonomi sebuah negara, tapi kalau keliru bukan sebuah ekonomi kreatif yang positif. Maka saya katakan pengelola televisi ini bisa termasuk orang-orang yang cepat masuk surga tapi di satu sisi bisa juga termasuk orang-orang yang cepat masuk neraka,” kata dia.

Pihaknya berpesan kepada seluruh pengelola televisi agar bisa memanfaatkan frekuensi yang pada dasarnya milik rakyat, harus bisa memberikan manfaat yang besar kepada masyarakat.

“Saya ingatkan sekali lagi bahwa pengelola televisi bukan pemilik frekuensi televisi. Tapi pengelola televisi dipinjamkan frekuensinya oleh negara untuk digunakan sebaik-baiknya yang juga bermanfaat sebanyak-banyaknya buat masyarakat. Jangan sampai ada gerakan dari masyarakat kembalikan frekuensi kami,” kata dia.