Target Program KB Bergeser untuk Keluarga Kurang Mampu

by -55 views

Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (PPKB) Kabupaten Sumedang, kini tengah fokus pada program KB untuk kelompok masyarakat kurang mampu. Dengan kondisi ekonomi labil serta relatifnya rendahnya pola pikir tentang pentingnya program KB, warga kurang mampu sulit mencapai kualitas keluarga yang sejahtera.

“Sudah ekonominya lemah ditambah lagi banyak anak, sulit untuk mencapai kualitas keluarga sejahtera. Fungsi dinas kami ini, tak hanya mengendalikan pertumbuhan penduduk melalui program KB saja, melainkan sekaligus membina keluarga peserta KB yang sejahtera. Makanya, sasaran program di dinas kami ini difokuskan pada warga kurang mampu,” tutur Nasam, Kepala Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Kabupaten Sumedang di ruang kerjanya, Rabu 5 April 2017.

Menurut dia, warga kurang mampu cenderung anaknya banyak, lebih dari 2-3 orang. Kondisi itu, akibat rendahnya pendidikan dan pengetahuan mereka. Mereka juga belum memahami pentingnya ber-KB dan menciptakan keluarga sejahtera. Justru sebaliknya, keluarga mampu dengan perekonomian yang mapan, cenderung membatasi jumlah kelahiran anaknya. Sebab, pola pikirnya sudah maju.

“Kalau orang mampu banyak anak, tak terlalu masalah. Sebab, mereka bisa bisa menciptakan keluarga sejahtera. Perekonomiannya mapan, bisa menyekolahkan anak-anaknya ke perguruian tinggi dan selalu menjaga kesehatannya,” kata Nasam.

Dikatakan, untuk memokuskan program KB dan keluarga sejahtera terhadap warga miskin, Dinas PPKB terus berupaya memberikan berbagai kemudahan pelayanan. Untuk mendorong program KB, dengan pelayanan gratis pemasangan alat kontrasepsi. Seperti halnya dalam memperingati Hari Jadi Kab. Sumedang yang ke-439 tahun 2017 tanggal 22 April nanti, diisi dengan kegiatan pemasangan alat kontrasepsi secara gratis bagi warga kurang mampu. Bagi peserta BPJS terutama warga kurang mampu, bisa memasang alat kontrasepsi gratis di puskesmas terdekat. Hal itu, terutama alat kontrasepsi jangka panjang, seperti IUD, implan, dan MOW (medis operatif wanita/tubektomi).

“Pelayanan secara gratis ini sengaja kami lakukan, sebab masih ada keluhan warga miskin yang tidak ber-KB gara-gara tidak punya biaya untuk memasang alat kontrasepsi,” ujarnya.

Sementara untuk menciptakan peserta KB menjadi keluarga sejahtera, lanjut dia, dengan melaksanakan program “Kampung KB”. Di setiap kecamatan dan desa, akan dipilih salah satu kampung yang akan dijadikan kampung KB. Kriterianya, selain kampung tersebut sukses menjalankan program KB, juga dipilih kampung yang kumuh. Sebab, tujuan program itu, bukan hanya membatasi jumlah penduduk dengan KB saja, sekaligus menciptakan kualitas keluarga yang sejahtera. “Dua anak belum menjamin keluarga sejahtera. Walaupun anaknya hanya dua tapi ekonominya lemah, pendidikannya rendah dan akses kesehatannya terbatas, sulit untuk mencapai keluarga sejahtera,” ucapnya.

Lebih jauh Nasam menjelaskan, alasan dipilih kampung kumuh, supaya hasilnya kelihatan terjadi perubahan signifikan. Dari asalnya kampung kumuh, menjadi kampung maju dan sejahtera. Tak hanya sukses KB saja, tapi ekonominya diperkuat melalui kegiatan usaha rumahan. Selain itu, derajat kesehatan dan kualitas pendidikannya pun ditingkatkan. “Program kampung KB ini, harus diintervensi oleh dinas lainnya. Misalnya, Dinas Koperasi UMKM dan Perindag membantu usahanya. Begitu pula Dinas Kesehatan dan Dinas Pendidikan, turut membantu sesuai bidangnnya,” katanya.

Ia menambahkan, perlunya mengintensifkan keluarga peserta KB yang sejahtera itu, sehubungan program KB di Kabupaten Sumedang terbilang sukses. Hal itu terlihat dari data Susenas (sensus nasional) 2015 lalu, rata-rata jumlah kelahiran ibu usia subur di Kabupaten Sumedang senilai 2,36%. Artinya, sejak menikah ibu usia subur melahirkan anak rata-rata 2 sampai 3 orang. Angka tersebut, di bawah rata-rata Jabar dan nasional yang masing-masing 2,6% dan 2,7%.

Pertumbuhan penduduk di Kabupaten Sumedang relatif rendah. Rata-rata kenaikan per tahunnya hanya 0,68 persen dari jumlah penduduk sekitar 1,2 juta jiwa. Angka tersebut masih di bawah angka rata-rata pertumbuhan di Jabar sekitar 1 persen lebih. “Dengan data angka itu, program KB di Kabupaten Sumedang sudah berhasil. Namun, keberhasilan itu tak hanya dengan membatasi dua anak cukup, melainkan harus menciptakan kualitas keluarga yang sejahtera,” ucap Nasam