Tebing Sudah Longsor, Warga Buahdua Sumedang Waswas

by

Warga Desa Cilangkap, Kecamatan Buahdua waswas melihat kondisi Pasir Urug yang menjulang di pinggir jalan Sumedang-Conggeang-Buahdua. Bukan hanya warga Cilangkap saja namun warga Buahdua yang sering melintas jalan juga cemas. Pasalnya puncak bukit setinggi lebih dari 300 meter mulai longsor di bagian puncaknya.

Material longsor berupa bebatuan yang kecil-kecil kerap meluncur dan sampai ke jalan raya yang berjarak 250 meter. “Kalau hujan turun material longsor berupa batu-batu kecil mengilinding dan sampai ke jalan raya,” kata Aceng (48) warga Desa/Kecamatan Buahdua, Rabu (19/4).

Menurutnya, bebatuan yang sampai ke jalan raya kerap dibersihkan warga karena membahayakan pengguna jalan. “Di bawah bukit itu tak ada perkampungan namun jika longsor terjadi materialnya bisa sampai ke jalan raya dan memutus lalu lintas Sumedang-Buahdua,” katanya.

Selain itu, terang dia, di bawah bukit itu ada objek wisata Cipanas yang kerap dikunjungi pengunjung lokal maupun dari luar Sumedang. “Warga waswas apalagi kalau hujan besar turun,” katanya.

Bukit yang menjulang tinggi dan warga menyebutkan Pasir Urug itu sebagian merupakan tanah milik dan ke puncaknya merupakan lahan hutan yang dikelola Perhutani di kaki Gunung Tampomas. “Longsor sering terjadi di bukit yang kemiringannya nyaris tegak itu, makanya warga menyebut Pasir Urug atau bukit yang longsor. Saat curah hujan tinggi, longsor sering terjadi dan Perhutani memasang papan peringatan bahaya tanah longsor,” kata Yaya Kuswaya (61) warga Sekarwangi, Buahdua.

Menurutnya, potensi longsor memang sangat tinggi dan warga sangat cemas. “Bukit yang menjulang itu hutannya sangat lebat dan tak ada warga yang bisa ke hutan disana karena kondisi daerahnya curam serta masih banyak hewan liar,” katanya.
Yaya menyebutkan, puncak Pasir Urug terlihat jelas ada longsoran yang terus membesar. “Dari jalan raya terlihat longsoran di puncak bukit dan dari hari ke hari semakin meluas,” katanya. (std)