Tiga Dalang Muda Puaskan Penonton

by -125 views

Tiga Dalang Muda Puaskan Penonton

Jatinangorku.com – PERGELARAN tiga dalang “Sa Jagat Sa Carita” benar-benar memuaskan para pencinta seni wayang golek yang memenuhi Teater Terbuka Taman Budaya Jabar, Sabtu (21/9) malam. Pergelaran wayang golek tersebut merupakan program aktivasi Taman Budaya yang digelar Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI.

Kemahiran tiga dalang muda dalam memainkan wayang dan menyuguhkan cerita, menjadi pemuas antusiasme para penonton. Mereka adalah Ki Dalang Wawan Dede Amung Sutarya, Ki Dalang Apep A.S. Hudaya, dan Ki Dalang Dadan Sunandar Sunarya.

Terlebih banyolan-banyolan segar para dalang yang mengocok perut membuat pertunjukan wayang malam itu menjadi penyegar para penonton, yang sehari sebelumnya disibukkan berbagai aktivitas.

Mengambil lakon “Bisma Rubuh”, episode dari kisah cerita perang Bratayudha (perang antara Pandawa dan Kurawa) disuguhkan bagi para penonton. Sebuah cerita perang yang banyak mengandung trik dan intrik para senapati perang untuk mengalahkan musuh-musuhnya.

Kubu Pandawa yang mendapat sokongan dan bimbingan Batara Kresna, mampu mengalahkan kubu Kurawa yang jumlahnya jauh lebih banyak. Batara Kresna yang menjadi juru taktik perang Pandawa, menjadikan Pandawa digjaya dalam perang Bratayudha.

Seperti saat hari kedua dan ketiga perang, di mana dari kubu Kurawa menampilkan Resi Bisma sebagai Panglima Perang. Sedangkan dari kubu Pandawa yang menjadi senapati adalah Resi Seta. Peran serta Kresna sebagai juru taktik perang memang membantu kemenangan Pandawa. Namun karena Resi Seta dibarengi amarah, nafsu serta kesombongan, akhirnya senapati Pandawa ini tewas di tangan Resi Bisma. Sebagai gantinya, Kresna menunjuk Dewi Srikandi menjadi senapati perang.

Kegalauan melanda Resi Bisma. Bagaimanapun, yang dihadapi dalam perang adalah para keponakannya. Karena tinggal di Negara Astina, Resi Bisma harus membela Kurawa. Namun dalam hatinya, Bisma hanya membela negara Astina, bukan Kurawa untuk gugur di lapang Kurusetra.

Bisma sangat tahu, kesaktian dan kepiawaian memainkan anak panah bisa menumpas semua penggawa dan pasukan Pandawa. Dikarenakan hati kecilnya lebih berat pada Pandawa, maka ia pun rela membocorkan kelemahannya, yakni harus berhadapan dengan Srikandi. Di tangan Srikandi inilah, Resi Bisma mengalami kekalahan setelah ratusan anak panah Srikandi menembus tubuhnya. Namun Resi Bisma bisa bertahan hidup dan minta ditempatkan di salah satu sudut lapang Kurusetra, untuk menyaksikan perang saudara antara Pandawa dan Kurawa dalam perang Bratayudah.

Sekalipun dibawakan tiga dalang, cerita “Bisma Rubuh” ini bisa dinikmati para penonton tanpa cela. Sehingga mereka tidak dibuat bingung mendengar dan menyaksikan pertunjukan ketiganya.

Mereka kompak membawakan cerita tersebut. Namun dalam urusan mencari saweran dari para penonton, ketiga dalang ini menampilkan kebolehannya masing-masing. Siapa yang paling kreatif dan atraktif memainkan wayang, maka dia yang akan mendapat saweran yang paling besar. 

Kreativitas dan inovasi ketiga dalang ini dipengaruhi gaya dari para dalang pendahulunya. Sampai pada akhirnya gaya-gaya tersebut membentuk gaya tiga dalang kenamaan Jawa Barat, yaitu gaya dalang Tjetjep Supriadi dari Kabupaten Karawang, gaya dalang Dede Amung Sutarya dari Kota Bandung, dan gaya Asep Sunandar Sunarya dari Kabupaten Bandung. Gaya ketiga dalang itulah yang saat ini menjadi inspirasi bahkan kiblat para dalang muda.

Sumber : http://klik-galamedia.com