UKM Dikenai Pajak, Perajin Cipacing Jatinangor Menjerit

by -152 views

Kebun Emas 486 x 60

JATINANGOR (10/1)

Terkait rencana Direktorat Jenderal Pajak yang akan memberlakukan pajak kepada usaha kecil dan menengah (UKM) sebesar 1 persen dari omzet/tahun, para perajin di Jalan Raya Bandung-Garut tepatnya di Cipacing, Kec, Jatianangorf menjerit. Pasalnya, penghasilan mereka tidak menentu.

“Gimana mau bayar pajak jika pendapatan kami tidak tetap. Bahkan dapat dikatakan minim. Kami heran dengan kebijakan pemerintah, bukannya membantu para pengusaha kecil, malah memberatkan kami semua,” kata Ketua Perajin Cipacing, Asep Rohman saat ditemui wartawan di kediamannya, Rabu (9/1).

Memnurut Asep, para perajin kecil di kawasan Cipacing mendapatkan keuntungan kotor sekitar Rp 15 ribu per hari. Setiap hari, para perajin memulas anak panah, wayang, dan kerajinan lainnya.

“Mereka hanya dibayar Rp 3.000 satu kodi, dan paling banyak hanya 5 kodi dalam satu hari. Untuk makan saja mereka sulit, bagaimana mungkin dengan membayar pajak,” katanya seraya menambahkan, saat ini popularitas kerajinan produk Cipacing kian menurun dan terpuruk.

Dikatakannya, sekarang ini perajin di Cipacing kalah bersaing dengan parajin asal Bali. Bahkan banyak orang dari Bali membeli langsung ke kawasan Cipacing. “Karena para perajin di Cipacing barangnya ingin cepat terjual, maka hasil kerajinannya dijual kepada orang-orang Bali. Harganya jelas murah,” terangnya.

Asep bahkan mempertanyakan kepada pemerintah tujuan dari pengenaan pajak tersebut. Menurutnya, untuk menghitung pajaknya saja sangat sulit karena pendapatan para perajin tidak jelas. Dan hampir semua masyarakat di Cipacing adalah perajin kecil yang menggantungkan hidupnya dari kerajinan.

(B.115)**

Kebun Emas 486 x 60