Upah Tak Sesuai UMK, Ratusan Buruh PT SHP Mogok

by -36 views

Upah Tak Sesuai UMK, Ratusan Buruh PT SHP Mogok

Jatinangorku.com – Ratusan buruh pabrik karung plastik PT Sinar Horizon Plastic (SHP) di Jalan Raya Cicalengka-Majalaya, Kp. Andir, RT 01/RW 13, Desa Cikuya, Kec. Cicalengka, Kab. Bandung, Rabu (4/9) pagi mogok kerja. 

Mereka menuntut kenaikan upah kerja sesuai upah minimum kabupaten (UMK) Bandung sebesar Rp 1.338.333. Sebelumnya, para pekerja harian di perusahaan tersebut mengaku upah kerjanya belum sesuai UMK.

Aksi buruh tersebut mendapat pengamanan dari gabungan sejumlah polsek seperti Polsek Cicalengka, Rancaekek, Cileunyi, dan Polsek Nagreg.

Aksi dimulai pukul 07.00 WIB dan siangnya perwakilan buruh dan pihak perusahaan sempat melakukan negosiasi, namun hingga sore belum ada kesepakatan. 

Sambil menunggu kepastian terkait tuntutan para buruh itu, sejumlah pekerja berkumpul di sekitar halaman dan gerbang pabrik. Ada juga para buruh yang keluar masuk perusahaan dengan penjagaan satpam yang siaga di pintu gerbang.

Dua orang pekerja di bagian mesin, Dede (26) dan Ujang (37) mengatakan, tuntutan penyesuaian upah kerja sesuai UMK itu, terutama disuarakan para pekerja harian. “Jadi banyak di antara pekerja harian yang upah kerjanya masih di bawah UMK. Karena itu, kami mogok kerja,” katanya.

Bergantung produksi

Berbeda dengan pekerja borongan, kata Dede, upah kerjanya bergantung pada hasil produksi. Kalau hasil produksinya lebih banyak, bisa melebihi UMK seperti pekerja di bagian mesin. “Sebaliknya jika produksinya kurang, pendapatan bisa kurang dari UMK. Pekerja borongan sih bagaimana mesin produksi. Kalau banyak yang rusak, ya pendapatan juga berkurang,” katanya.

Menurutnya, aksi mogok ini merupakan spontanitas. Mereka yang mogok kerja adalah buruh sif malam dan yang masuk sif pagi. “Sempat ada negosiasi antara perwakilan buruh dengan pihak perusahaan,” katanya. 

Ditambahkan Ujang, para pekerja harian berharap upah kerja yang diterima sebesar Rp 19.000-Rp 25.000 per hari dinaikkan sesuai UMK. 

“Pihak buruh sering menyampaikan keluhan pada perwakilan pengusaha. Karena belum ada tanggapan, akhirnya kami mogok kerja,” katanya.

Satpam perusahaan, Bambang mengatakan, ratusan buruh menuntut kesejahteraan karena masih ada pekerja yang upahnya Rp 20.000/hari, khususnya pekerja harian. “Mereka menuntut upah kerja sesuai UMK,” katanya.

Sumber : http://klik-galamedia.com