Usai Persalinan, Mata Warga Jatinangor Ini Alami Buta, Sang Suami Pun Tega Meninggalkannya

by

ala nafas terhela di dunia, sebuah cinta terlimpah untuk manusia. keluarga merupakan bentuk belaian dan buaian Tuhan kepada manusia, dari dia yang begitu mencinta, limpahkan pada mereka,  maka rasa cinta dari kita akan selalu terjaga.

Namun berbeda dengan kehidupan yang dialami oleh Atin Supriatin (34), seorang ibu rumah tangga warga RT 01 RW 12, Dusun Bojong Eureun Tengah, Desa Cibeusi, Kec. Jatinangor, Kabupaten Sumedang, yang mengalami kebutaan seusai persalinan anak keduanya yang bernama Aldo yang kini telah berusia 3 tahun.

Tak hanya itu dia pun harus mengalami kesedihan yang lebih mendalam lagi, sang suami yang bernama Setiawan (29) telah tega meninggalkan dirinya bersama kedua buah hatinya tersebut. Kini, di rumah yang sederhana, dia pun tinggal bersama orang tuanya Cici (65) dan kedua anaknya yang bernama M. Aldi Kurniawan (17) dan Aldo (3) , Untuk makan sehari hari saja Atin beserta keluarga hanya mengandalkan belas kasihan dari para tetangganya.

Sekitar tahun 2014 saya hamil anak kedua, saat usia kandungan menginjak 2 bulan, penglihatan mata saya pun sudah buram, dengan memakai Jamkesmas, saya pun memeriksakan mata saya ke RS Cicendo Bandung, akhirnya pada waktu itu dilakukanlah operasi pada mata saya dan saya pun berkonsultasi kepada dokter, ” Dokter nanti saya gimana, apakah harus dilakukan sesar atau melahirkan normal saja, dokter pun menjawab, Ibu melahirkan secara normal pun tidak akan ada apa”, namun saran dokter tersebut berbeda dengan bidan yang bertugas di Puskesmas, pada waktu itu bidan menganjurkan saya agar melahirkan secara operasi sesar dikarenakan saya sudah melakukan operasi mata, akhirnya pun saya melahirkan secara normal di Puskesmas Jatinangor dan Setelah anak saya lahir, penglihatan saya malah bertambah parah,” kata Atin kepada elajabar.com saat ditemui di kediamannya,  Sabtu (21/7/2018).

Atin menerangkan, setelah saya melahirkan anak kedua, saya pun mendatangi kembali RS Cicendo untuk berobat mata saya, saat itu dokter memvonis jika mata kanan saya retinanya putus dan mata kiri retinanya kaku dan dokter pun mengatakan, “Kita hanya bisa membantu penyembuhan saja tetapi yang menyembuhkan itu yang diatas. Kalau penanganan medis sudah tidak bisa lagi,  lebih baik ibu mendatangi ke sekolah tuna netra saja yang di Jl. Padjajaran, soalnya percuma jika sekarang mengambil tindakan operasi juga, karena retina mata ibu sudah keluar bahkan ada benjolan dan apabila dilakukan operasi lagi, takutnya bola matanya mengecil, penglihatan ibu segini pertahankan saja,” kata Atin menceritakan keterangan dokter.

Dia menceritakan, sekarang mata kanan saya sudah total tidak bisa melihat, namun mata kiri saya sedikit bisa melihat walaupun hanya sebatas bayangan saja, ditambahkan Atin, saat itu ,dengan diantar oleh anak saya, saya pernah mendatangi rumah kepala desa Cibeusi, tadinya saya mau meminta surat pengantar untuk berobat ke RS, namun pada waktu itu pak Kades sedang tidak ada dirumahnya, yang ada hanya ada ibu kadesnya saja, kata ibu kades, “Bapaknya sedang repot dan Bapaknya sedang tidak ada dirumah. Maaf gak tahu kalau ada warga Cibeusi yang seperti ini, Sabar saja ya neng,” bebernya.

Ditambakan dia, “Saya berharap ada bantuan dari pemerintah untuk penyembuhan mata saya ini, saya ingin bisa beraktifitas kembali, jika seperti ini untuk berjalan saja saya harus ada yang memegang dan saya sudah malu, untuk makan setiap hari saja saya hanya mengandalkan dikasih dari tetangga. padahal usia saya masih produktif,” kata dia

 

 

 

Sumber : https://eljabar.com