Volume Sampah Di Jatinangor Semakin Tinggi

by -31 views

Volume Sampah Di Jatinangor Semakin Tinggi

Jatinangorku.com – Permasalahan sampah di kawasan Jatinangor semakin tak terbendung. Kian hari kian menumpuk. Memasuki bulan Ramadan, produktivitas sampah semakin bertambah.

Meski saat ini sudah diturunkan tambahan truk pengangkut sampah, nyatanya sampah masih berserakan di beberapa tempat. Salah satunya di Jln. Kol. Ahmad Syam, depan TPU Gajah, Desa Cikeruh.

Salah seorang warga yang tinggal tidak jauh dari TPU Gajah, Eli (34), mengeluhkan bau dari tumpukan sampah tersebut. Ia khawatir kesehatannya terganggu. Bahkan merusak citra Jatinangor yang dikenal sebagai kawasan pendidikan.

“Ya jelas terganggu. ‘Kan mengganggu aktivitas dan kesehatan. Apalagi ini di pinggir jalan. Bahkan sudah bertahun-tahun menggunung, meski ada petugas pemungut sampah,” kata Eli kepada wartawan, Senin (14/7).

Menurut Eli, orang yang membuang sampah di depan TPU Gajah bukan warga sekitar Desa Cikeruh, melainkan orang luar yang sengaja membuang sampah di sana. Warga sekitar TPU, katanya, memiliki tempat pengumpulan sampah sendiri, yang kemudian diangkut petugas kebersihan. “Orang sini buangnya tidak di situ. Yang buang sampah di situ orang-orang pakai motor, jadi dilempar dari motor. Biasanya sore atau subuh,” ujarnya.

Warga sekitar TPU Gajah pun sudah berkali-kali menertibkan tempat tersebut. Mulai dari membersihkan secara gotong royong hingga memasang larangan membuang sampah. Bahkan pemerintah Desa Cikeruh sudah membuat peraturan desa (perdes) tentang sampah, tetapi hingga kini belum terasa manfaatnya.

“Warga sini sudah bersih-bersih. Malah kerja bakti dengan Brimob Polda Jabar setiap dua minggu sekali. Tapi ada lagi yang lempar sampah di sini, akhirnya kotor lagi seperti ini,” katanya.

Menumpuk

Menurutnya, sampah di dekat tugu perbatasan Kabupaten Bandung dan Sumedang di Desa Cibeusi juga masih terlihat menumpuk. Bahkan hingga ke pinggir sungai, menyebabkan bau tidak sedap, dan sering memicu banjir.

Selain Eli, Iwan (32) yang sehari-hari bekerja di sekitar daerah tersebut mengatakan hal senada. Padahal di Jatinangor ada petugas pemungut sampah. Bahkan, truk pengangkut sampah sudah ditambah menjadi dua armada.

“Yang buang di sini orang sekitar sini-sini juga. Kalau subuh pada dilempar ke sini. Lemparnya memang subuh biar tidak ketahuan. Anehnya, ‘kan ada petugas sampah tapi tidak diangkut juga,” bebernya.

Menurut Iwan, sampah di dekat tugu perbatasan tersebut tidak pernah diangkut atau mendapat perhatian dari pemerintah.

“Tidak ada yang mengangkut. Malah kami yang bakar agar sampahnya berkurang. Saya kira bukan alasan petugas pengangkut sampah tidak ada armada. Buktinya, meski ada tambahan armada baru, sampah tetap berserakan,” jelasnya.

Sumber : http://www.klik-galamedia.com/