Wapres: IPDN Jangan Lagi Jadi Bahan Gunjingan

by -34 views



JATINANGOR— Wakil Presiden Boediono hari ini mengukuhkan 985 Pamong Praja Muda Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) angkatan XIX/2012 di Jatinangor Kabupaten Sumedang, Jawa Barat.

Melepas para pamong muda ke masyarakat, sederet pesan disampaikan Boediono. Yang pertama, jangan bersikap tertutup dan merasa tahu segalanya.

“Tidak ada orang yang tahu segalanya, dan tidak boleh seseorang merasa sudah tahu segalanya, lalu bersikap tertutup dan tidak mau belajar lagi. Oleh karena itu, pesan saya yang pertama kepada kalian adalah terus ikuti perkembangan bidang ilmu kalian, terus kembangkan kemampuan pribadi kalian dengan sikap dan semangat tiada hari tanpa belajar sesuatu yang baru,” ujar Boediono di kampus Jatinangor, Sumedang, Jawa Barat, Kamis 6 September 2012.

Diingatkan Boediono, kegiatan pemerintahan sejatinya memiliki satu tujuan utama yang mulia: melayani masyarakat, dengan efisien, dengan cara yang berkeadilan, dan tanpa diskriminasi. “Pesan saya yang satu lagi adalah, jagalah integritas kalian dengan sungguh-sungguh. Karena itulah yang sebenarnya milik kalian yang paling berharga dalam karier kalian dan dalam  hidup ini. Itulah yang akhirnya menentukan martabat kalian sebagai  manusia, sebagai pejabat, sebagai pemimpin, di mata rakyat dan di hadapan Tuhan Yang Maha Esa,” kata Boediono.

Wapres pun memuji pilihan para pamong praja muda untuk memberikan pengabdian di bidang pemerintahan. Itu mulia. Namun, dia menegaskan, apabila tujuan utama hidup seseorang adalah memupuk harta dan mengeruk keuntungan, pemerintahan bukanlah tempatnya.

“Apabila ini terjadi, akibatnya fatal. Kepribadian orang itu akan rusak, dan negara juga akan rusak. Jadi, integritas pribadi adalah kunci bagi segalanya. Dalam perjalanan karier Anda, Anda akan menghadapi  berbagai ujian yang menyangkut integritas Anda. Jangan lupakan pesan saya yang satu ini: jagalah integritas Anda baik-baik,” kata Boediono.

Pengabdian abdi negara, lanjut Boediono, adalah untuk kepentingan negara dan kepentingan umum. Oleh karena itu, abdi negara tidak boleh mudah mengeluh, kecewa, dan frustasi dalam melaksanakan tugas. “Berjiwalah pemimpin. Jangan biasakan mengeluh, kecewa, apalagi frustasi jika dihadapkan pada situasi sulit dalam pelaksanaan tugas. Sebab, hanya mereka yang pernah melalui masa-masa sulit dan kritis di dalam perjalanan karier dan kehidupannya yang berpotensi menjadi kader yang tangguh dan menjadi pemimpin sejati,” kata Boediono.

Lebih jauh, Boediono menyoroti IPDN mempunyai peran yang strategis dalam konteks pembangunan sistem pemerintahan. Oleh karena itu IPDN sebagai lembaga pendidikan harus mampu merancang kurikulum dalam sistem pendidikan yang dinamis dan akseleratif guna menjawab tantangan permasalahan bangsa yang juga sangat dinamis.

“Kuncinya di sini adalah pada para dosen dan pembimbing yang kita harapkan selalu meningkatkan kualitas dan kemampuan masing-masing agar para Pamong Praja Muda dapat disiapkan menjadi aparatur birokrasi yang tangguh, profesional dan berintegritas. Sikap keteladanan para pembimbing dan tenaga pengajar merupakan kunci  utama pembentukan karakter dan kepribadian para lulusan institut ini,” kata Boediono.

Beberapa waktu lalu, lanjut Boediono, telah dilakukan evaluasi menyeluruh terhadap IPDN. “Saya minta rekomendasi-rekomendasinya ditindaklanjuti sehingga dapat membawa perubahan menyeluruh pada sistem akademik, pola pengasuhan, tata kelembagaan dan SDM, serta penyiapan sarana dan prasarana pendidikan,” kata Boedionio.

“Kita tidak ingin lagi mendengar kampus IPDN menjadi bahan gunjingan karena berbagai kasus kekerasan yang pernah terjadi. Jadikanlah lembaga pendidikan ini sebagai kebanggaan bagi  bangsa Indonesia dan tumpuan harapan kita semua bagi lahirnya kader pemerintahan yang unggul di masa depan,” tambah Boediono. (eh)

sumber : vivanews