Warga Sumedang Tak Perlu Lagi Takut Terbawa Arus untuk Menyeberangi Sungai

by -92 views

Vertical Rescue Indonesia kembali bekerja sama dengan Pemerintah Provinsi Jawa Barat membangun jembatan rawayan, kali ini yang menjadi penghubung Desa Karangbungur dan Desa Ranggasari, Kecamatan Barudua, Kabupaten Sumedang. Jembatan ini adalah yang ke-15 didirikan di Jawa Barat sejak 2016 dengan teknik dari Vertical Rescue.

Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan mengatakan kali ini langsung meninjau teknik yang dipakai tim Vertical Rescue dalam membangun jembatan tersebut di Sumedang. Hal ini untuk memastikan kelayakan dan keamanan jembatan tersebut untuk digunakan masyarakat.

“Di awal, kami lihat pemasangan batu landasan yang diikat menggunakan kawat baja, kemudian dibentangkan melalui tiang antara kedua ujungnya. Besok pun selesai, cuma butuh waktu lima hari dengan bantuan teknik dari Vertical Rescue ini,” kata Heryawan di lokasi pembangunan jembatan tersebut, Selasa (4/4).

Gubernur yang akrab disapa Aher ini menuturkan selanjutnya akan melakukan standardisasi jembatan-jembatan yang didirikan oleh Vertical Rescue. Sertifikasi oleh Dinas Bina Marga Provinsi Jawa Barat ini untuk memastikan ketahanan jembatan dan keamanan penggunaannya bagi masyarakat.

“Kita buat standard baru, bukan standard yang selama ini ada di Bina Marga. Biasanya jembatan dibuat dengan waktu yang lama dan biaya tinggi. Bisa sampai sebulan, menunggu cor semen kering. Tapi dengan teknik yang biasa digunakan untuk panjat tebing, bisa lebih cepat dan murah,” kata Aher.

Jembatan ini dibuat dengan gotong royong masyarakat melintang di atas Sungai Neglasari selebar 60 meter. Sebelumnya, dibuat juga jembatan serupa di Naringgul Cianjur sepanjang 120 meter, di Cibingbin Cirebon sepanjang 70 meter, serta di Karangpawitan dan Pakenjeng di Kabupaten Garut. Dari 20 jembatan yang didirikan Vertical Rescue di Indonesia, 15 di antaranya terdapat di Jawa Barat.

“Semoga dapat bermanfaat bagi masyarakat nantinya, tidak usah menyeberang langsung ke sungai atau ambil jalur memutar lagi. Tapi ingat, jembatan ini hanya boleh dilalui tiga orang sekaligus. Ke depannya sertifikasi, supaya bisa dipertanggungjawabkan,” katanya.

Komandan Vertical Rescue Indonesia, Tedi Ixdiana, mengatakan bahan utama membangun jembatan ini adalah sling baja, baud, dan besi. Sling baja ini diikatkan pada sejimlah batu besar yang menjadi fondasi jembatan di sekitar sungai, ditanam dengan kedalaman sampai dua meter.

“Sedangkan pijakannya menggunakan bambu, karena di Jawa Barat kebanyakan bahan yang ada adalah bambu. Dengan demikian, masyarakat bisa merawat jembatan ini dengan menganyam bambu untuk pijakan jembatan,” katanya.

Tedi mengatakan jembatan-jembatan yang telah dibuatnya siap untuk disertifikasi. Selama ini, jembatan yang dibangunnya telah layak dan memadai. Laboratorium jembatan ini pun ada di Kota Bandung. Di Jawa Barat, katanya, setidaknya ada 200 lokasi yang membutuhkan jembatan gantung.

Warga Desa Karangbungur, Dedi (62), mengatakan awalnya tidak ada jembatan yang menghubungkan dua desa tersebut. Selama ini masyarakat memilih untuk mengambil jalur memutar ke desa lain, atau langsung berjalan dengan terjun langsung ke sungai yang terkenal dengan nama Sungai Jambrong ini.

“Makanya banyak yang jadi korban terbawa hanyut sungai. Jembatan sangat dibutuhkan di sini. Karena kalau musim hujan, airnya sangat deras. Beda kalau kemarau yang hampir kering,” katanya.