Waspada Ada Pusaran Arus Berbahaya di Jatigede

by -37 views

 

Bendungan Jatigede memiliki luas 43 km persegi di beberapa titik ada arus kuat yang sangat berbahaya dilalui perahu. Sehingga di kawasan itu dilarang ada perahu yang melintas.

Kepala Dinas Perhubungan, Telekomunikasi dan Informatika (Dishubkominfo), Teddy Mulyono menyebutkan Bendungan Jatigede menjadi danau buatan yang memiliki kekhasan dan berbeda dengan bendungan buatan lainnya. “Ada perbedaan dan ini menjadi kekhasan, di Bendungan Jatigede ada kawasan yang terlarang dilintasi perahu karena berbahaya,” kata Teddy usai rapat koordinasi (Rakor) pemerintahan di aula Tampomas Gedunga Induk Pusat Pemerintahan, Senin (9/5).

Menurutnya di beberapa titik ada kawasan perahu dilarang melintas karena ada arus bawah yang sangat kuat. “Di beberapa titik ada arus bawah yang kuat, air berputar dan sangat berbahaya kalau dilintasi perahu sehingga menjadi zona larangan melintas,” katanya.

Teddy menyebutkan pemerintah akan mengatur lalu lintas perahu di kawasan Bendungan Jatigede. “Kami sudah melakukan pembicaraan dengan Kementerian Perhubungan untuk membangun dermaga dan mengatur lalu lintas angkutan air di Jatigede,” katanya.

Dishub bekerjasama dengan otorita Jatigede akan melakukan patroli di kawasan genangan dengan menerjunkan kperahu khusus patroli.

Di kawasan Jatigede itu akan dibangun tiga dermaga yang ada di Kecamatan Darmaraja, Wado dan Jatigede. “Untuk posisi pastinya masih menunggu ketinggian air mencapai maksimmal 262 meter diatas permukaan laut,” kata Teddy.

Ketinggian air, terang dia, masih terus berubah dan jika sudah diketahui ketinggian air sampai 262 meter maka bisa ditentukan dimana lokasi pembangunan dermaga. “Air Bendungan Jatigede akan penuh pada Februari 2017 kemudian enam bulan berikutnya dilakukan evaluasi dan ada otorita Jatigede yang menangani khusus bendungan,” katanya.

Teddy menyebutkan pembangunan dermaga membutuhkan biaya yang sangat besar dan tidak mungkin dibangun oleh Pemkab Sumedang. “Satu dermaga butuh anggaran sampai Rp 30 miliar lebih sehingga tiga dermaga maka dibutuhkan Rp 100 miliar dan akan dibangun Kementerian Perhubungan,” katanya.

Angkutan air nanti sangat dibutuhkan warga karena jika menggunakan angkutan darat membutuhkan waktu lama dan jarak tempuh yang memutar. Warga Desa Jemah, Kecamatan Jatigede yang akan berbelanja ke Wado jika jalan darat haru smenempuh perjalanan lebih dari 30 km tapi kalau menggunakan perahu hanya 15 km saja. “Dengan adanya dermaga nanti diatur lalu lintas perahu yang mengangkut barang dan orang. Ada trayek tersendiri dan jumlah perahu yang akan diatur,” katanya.

Selain untuk lalu lintas penyebrangan perahu ini akan digunakan juga untuk wisata. “Di Dinas Perhubungan nnati akan ada seksi angkutan dano dan sungai di bidang angkutan yang khusus mengatur lalu lintas angkutan air,” katanya