Waspada… Jatinangor Terancam Tiga Bencana Besar Ini

by -31 views

 

Sebagai kawasan pendidikan dan kawasan perkotaan yang mulai padat dengan bangunan-bangunan menjulang tinggi dan juga kawasan permukiman yang berkembang pesat, Jatinangor tidak boleh lupa dengan potensi bencana krusial yang sewaktu-waktu bisa mengancam.

Seperti dikatakan Dosen Fakultas Teknik Geologi Universitas Padjadjaran, Dr. Ir. Dicky Muslim, M.Sc., bahwa setidaknya ada tiga potensi bencana yang mengancam di wilayah Jatinangor. Tiga potensi tersebut yaitu longsor, gempa bumi, dan kemungkinan kembali aktifnya Gunung Manglayang.

“Ini akan menelan kerugian jiwa maupun materi yang sangat besar apabila tidak dilakukan mitigasi kebencanaan sejak dini, kita tinggal di daerah yang tidak aman, tetapi kita malah memanfaatkan ketidakamanan ini menjadi suatu benefit,” ujar Dicky saat menjadi pembicara dalam “Sosialisasi dan Informasi Kemitigasian Universitas Padjadjaran” di Bale Rucita Unpad Kampus Jatinangor baru-baru ini.

Dicky menyebut, tiga potensi bencana itu sewaktu-waktu bisa saja terjadi bersamaan. Berdasarkan hasil penelitian bersama mahasiswa FTG selama bertahun-tahun, Dosen Fakultas Geologi Unpad itu menemukan banyak wilayah yang rawan longsor dan gempa.

Secara geologi, Jatinangor berada di sebelah timur kawasan Cekungan Bandung yang merupakan kawasan rawan gempa. Ini didasarkan pada adanya sesar (patahan) yang berada di wilayah Lembang. Berdasarkan penelitian, sejak ribuan tahun yang lalu, kawasan Cekungan Bandung pernah mengalami gempa besar yang kekuatannya mencapai 6,5 skala Richter.

Ia mencontohkan, bila kawasan tersebut mengalami gempa dan hujan bersamaan, sementara beban permukiman di atasnya yang berat, bukan tidak mungkin akan mengalami longsor.

“Berdasarkan penelitian, jika Bandung (kembali) mengalami gempa seperti itu, akan mengalami kerugian sekitar 4 triliun,” ujarnya.

Kemudian, Dr Dicky mengandaikan, apabila gempa dan hujan terjadi bersamaan, sementara beban permukiman di atasnya sangat banyak, bukan tidak mungkin akan mengalami longsor.

Sementara terkait potensi kembali aktifnya Gunung Manglayang, Dicky mengatakan, hal ini serupa dengan bencana erupsi di Gunung Sinabung.

“Gunung Sinabung mengalami proses ‘tidur’ selama 700 tahun dan bahkan sudah dianggap mati. Tapi ternyata meletus kembali. Kami mencoba melihat potensi ini terjadi atau tidak di Manglayang. Prediksi ini penting untuk mengurangi risiko,” sebutnya.

Namun, Dicky mengatakan apa yang disebutkannya itu bukan untuk menakut- nakuti. Apabila proses mitigasi bencana dilakukan sejak dini, maka segala bentuk kerugian pada saat bencana terjadi akan berkurang. Selain itu, urusan mitigasi kebencanaan bukan menjadi tugas satu bidang ilmu atau lembaga saja, tetapi memerlukan bantuan antar disiplin ilmu, lembaga, maupun masyarakat