Kenapa Orangtua Resah di Hari Pertama Sekolah, Ini Penyebabnya

by -127 views

Jatinangorku.com – Siswa baru mulai mengikuti rangkaian masa orientasi di hari pertama masuk sekolah. Antusiasme siswa tak terbendung saat menginjakan kaki di jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Namun tak demikian bagi orangtua siswa baru di wilayah Kabupaten Bandung Barat. Disaat anak mereka semangat bersekolah, para orang tua siswa justru was-was memikirkan biaya si buah hati.

Hal itulah yang dirasakan Turgani (50) warga Cibabat, Kota Cimahi. Dia mengaku khawatir dengan biaya sekolah anaknya, Fauzi Ramdani (15), yang kini tengah menjalani seleksi siswa berprestasi jalur olahraga bidang gulat di SMAN 1 Batujajar.

“Memang agak was-was sih. Meski sudah persiapan ditambah sedikit tabungan, tapi tetap ada kekhawatiran biaya sekolah membengkak dan tak sesuai dengan yang saya prediksi,” ucapnya saat ditemui di SMAN 1 Batujajar, Senin (27/7/2015).

Menurutnya, sampai saat ini pihak sekolah belum mengumumkan jumlah biaya masuk sekolah. “Saya baru dua kali ke sini, bidang pembiayaan juga belum ada rapat, justru itu jadi pikiran buat orang tua, ya walaupun ada program pemerintah tetap saja harus keluar biaya,” keluhnya.

Keresahan yang sama juga dialami Iyep Wahidin (47) ayah dari Ikhsan (15) warga asal Kecamatan Saguling. Meski dengan keterbatasan finansial, Iyep tak bisa mencederai semangat belajar anaknya yang ‘kekeuh’ ingin masuk SMAN 1 Batujajar dengan menempuh jalur prestasi dibidang olahraga.

Dia menuturkan, bagi warga Saguling bersekolah di luar wilayah menjadi beban berat bagi orang tua siswa. Terlebih para orang tua siswa di Kecamatan Saguling mayoritas berprofesi sebagai petani.

“Saya tak tega melihat semangat belajar anak saya yang tinggi. Saya akan terus berjuang demi anak,” tegas Iyep penuh keyakinan.

Iyep memaparkan, untuk bersekolah ke SMAN 1 Batujajar, anaknya membutuhkan biaya Rp. 50 ribu hanya untuk transportasi. Belum lagi ditambah uang jajan sang anak.

“Dari Saguling itu jalur alternatifnya nyebrang menggunakan perahu di dermaga Girimukti. Biasanya bayar Rp. 30 ribu untuk pulang pergi. Belum lagi ojek ke sekolah, ya kalau dihitung habis Rp. 50 ribu untuk ongkos saja. Buat kami masyarakat kecil, jumlah itu sangat mahal,” jelas Iyep sambil menggerakan jarinya menghitung biaya pengeluaran anaknya bersekolah.

Dengan kondisi seperti itu, pria yang berprofesi sebagai karyawan swasta itu pun terpaksa mencari kamar kost bagi anaknya. “Kalau tidak begitu (kost) biaya pasti dobel,” jelasnya.

Sebetulnya, kata Iyep, sekolah tingkat atas di Kecamatan Saguling sudah dibangun. Namun dia menilai cukup riskan menyekolahkan anaknya di sekolah yang masih dalam tahap rintisan. Apalagi bangunan SMAN 1 Saguling masih belum rampung dan hanya terdapat tiga ruang kelas.

“Ada sekolah disana tapi kan sekolahnya baru merintis. Saya juga takut anak saya terbawa lingkungan di Saguling yang masih menganggap pendidikan itu bukan hal penting. Jadi mumpung semangat anak saya tinggi, saya bakal sekuat tenaga memperjuangkan,” pungkasnya.(

Sumber : http://www.galamedianews.com/